Malang Raya

'Malangnya' Kota Malang di Hari Wisuda dan Liburan Mahasiswa

Tak hanya di hari kerja dan saban akhir pekan, Kota Malang bernasib malang di periode wisuda dan liburan mahasiswa.

Editor: Achmad Amru Muiz
TribunNetwork/Thamsil Thahir
Acara wisuda di Universitas Brawijaya Malang yang dihadiri ribuan orang yang hadir di Kota Malang akhir pekan, Sabtu (15/12/2018). 

Laporan wartawan Tribun Network, Thamzil Thahir

SURYAMALANG.COM, MALANG - Berjuluk Kota Pendidikan terbesar ketiga di Indonesia setelah Bandung dan Jogyakarta, Kota Malang harus menanggung risiko negatif lingkungan, sosial dan ekonomi.

Tak hanya di hari kerja dan saban akhir pekan, Kota Malang bernasib malang di periode wisuda dan liburan mahasiswa. Bagaimana bisa?

Mencatat sekitar 91 perguruan tinggi di tahun 2017 dan 121 sekolah menengah dan vokasi, Kota Malang, saban pagi dan sore, menanggung risiko kemacetan parah. Hampir 420 ribu dari 1.1 juta penduduknya berstatus siswa dan mahasiswa. Ini belum termasuk guru, dosen, dan tenaga pendukung kependidikan yang sudah bermukim turun temurun di kota terbesar kedua di provinsi Jawa Timur, setelah Surabaya ini. 

Mobilitas urban kota pendidikan ini belum ditunjang sistem dan infrastruktur transpotasi publik memadai. 
Jadilah roda dua dan kendaraan roda empat milik private jadi moda gerak utama di jalan pendek nan padat.
Malangnya nasib Kota Malang dikuatkan survei transportasi nasional. 

Temuan InRIX 2017, menempatkan ruas jalan di wilayah metro Malang berpenduduk 1,2 juta orang ini, sebagai kota termacet ke-3 di Indonesia, setelah Jakarta dan Bandung.

Survei menyebutkan, di kota sejuk ini, pengendara harus menghabiskan 45 jam dalam setahun di pusaran macet. Skala total kemacetannya, 23 persen. Pada jam sibuk, kemacetan naik menjadi 27% dibandingkan di luar jam sibuk 24%.

Di jalan-jalan di Malang Raya, laiknya air mengalir yang mencari celah. Jumlah kendaraan bermotor di Kota Malang setara separuj jumlah penduduknya, 895.387 jiwa di tahun 2017 lalu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang per Juli 2017,  tercatat 441.123 unit motor di tahun 2015. Setahun kemudian bertambah sekitar 15.559 menjadi 456.693 unit. 

Sedangkan total mobil 106.432 unit di 2015 dan naik sekitar 10 ribuan jadi menjadi 111.217 di tahun 2016.
Jika ditotal, pertambahan reratanya seiring persentase jumlah siswa sekolah menengah atas dan mahasiswa baru di Malang.

Dalam memilih judul news article ini "Malangnya Nasib Kota Malang di Masa Wisuda dan Liburan Mahasiswa" ini merujuk asumsi data dan sejumlah confirmed facts.

Gathu (31), wisudawan Program Pascasarjana Ilmu Administrasi Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) Malang, punya ungkapan menarik nan satiris; "Waktu saya SMA (2000-an) ada ungkapan motor takut ketabrak mobil, sekarang mobil yang takut kegores motor," kata Gathu.

Kepada Tribun, di Aula Samantha Krida, Kampus utama UB, Ketawanggede, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (15/12/2018) pagi, Gathu yang juga konsultan dan data analis pada intansi pemerintah Jatim ini, menggambarkan, 10 tahun terakhir, warga Malang mafhum benar kemacetan kian menjenuhkan di 4 periode wisuda 5 kampus besar; Universitas Brawijaya, Universitas (UNM) Malang, UIN Malik Ibrahim, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (Unisma).

Dari lima perguruan tinggi besar saja, saban tahun, menerima sekitar 131.000-an mahasiswa baru. 
Periode wisuda itu biasanya dihelat saban tahun; Mulai Maret, Juni, Agustus dan September, dan Desember. 
Dan itu baru 5 kampus; padahal di Malang ada 91 kampus perguruan tinggi negeri dan swasta.
Gatu ikut wisuda Periode VI (akhir) Tahun Akademik 2018/2019 Program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana Universitas Brawijaya bersama 1.113 wisudawan. Mereka dari 15 program studi ahli madya, sarjana, dan pascasarjana UB.

Karena banyaknya wisudawan dan guna meminimalisir macet di kota di 4 periode itu, otoritas rektorat UB memilih sidang upacara wisudawan tak lagi berdasar periodisasi normal melainkan merujuk kuota. 

Jika nominal wisudawan sudah mencapai kuota, di atas 1000 dibawah 1.500, sidang jadi alumni digelar. 
Saban tahun UB bisa mewisuda lima hingga enam kuota. Artinya, saban tahun kampus yang berdiri 1963 ini, bisa mewisuda hingga 12 ribu hingga 15 ribu mahasiswa, sama dengan jumlah pendaftar baru dalam satu dekade terakhir. 

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved