Kabar Tulungagung

Penderita Demam Berdarah Di Tulungagung Bertambah Empat Kali Lipat Tahun 2018

Meski terjadi ledakan jumlah pasien, namun kondisi itu belum termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB).

Penulis: David Yohanes | Editor: Achmad Amru Muiz
suryamalang.com/David Yohanes
Petugas Dinkes Tulungagung melakukan fogging untuk mencegah berkembangnya penyakit Demam Berdarah. 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Hujan yang turun mulai memicu kenaikan angka pasien demam berdarah di Tulungagung. Sepanjang tahun 2018, tecatat ada 545 pasien yang terserang virus yang dibawa nyamuk Aedes Aegypti ini. Jika dibanding tahun 2017, jumlah pasien Demam Berdarah mengalami ledakan hingga empat kali lipat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung mencatat, tahun 2017 hanya ada 128 pasien. Sedangkan jumlah pasien yang meninggal dunia meningkat, dari empat pasien menjadi enam pasien.

“Kasus tertinggi tercatat pada bulan November, ada 94 kasus. Sedangkan pada bulan Oktober ada 80 kasus,” kata Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Didik Eka, Senin (31/12/2018).

Meski terjadi ledakan jumlah pasien, namun kondisi itu belum termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebab rata-rata kejadian yang ditoleransi pemerintah pusat adalah 50 pasien per 100.000 penduduk. Dengan jumlah penduduk Kabupaten Tulungagung saat ini, sekitar 1.100.000, maka batas toleransi adalah 550 pasien.

“Kalau dari angka yang ditetapkan, jumlah pasien kita masih di bawah angka yang ditetapkan. Sehingga belum bisa dinyatakan KLB,” tambah Didik.

Pasien demam berdarah ini dari berbagai golongan umur. Namun dari jumlah pasien yang meninggal, 70 persen adalah anak-anak. Selain faktor turunnya hujan, kebersihan lingkungan turut memicu perkembangan nyamuk Aedes aegypti.

Menurut Didik, nyamuk ini tidak mau bertelur pada air yang bersentuhan langsung dengan tanah. Makanya nyamuk ini berkembang saat hujan mulai turun, karena banyak barang yang terisi air. Misalnya seperti botol bekas, kaleng bekas dan lain-lain.

“Makanya kebersihan lingkungan penting, untuk memastikan tidak ada wadah yang terisi air hujan. Selain itu penampung air juga wajib dikuras sekurangnya satu minggu sekali,” tambah Didik.

Didik juga menyarankan masyarakat menanam tanaman yang dibenci nyamuk, seperti serai, bunga lavender dan menggunakan obat nyamuk bakar. Nyamuk Aedes aegypti beroperasi pada pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Kemudian menjelang malam, pada pukul 15.00 WIB hingga 18.00 WIB.

Selain itu perlu untuk melakukan pemetaan jentik nyamuk di lingkungan. Jika ada satu warga yang demam tanpa sebab yang jelas, dan di 20 rumah sekitar ada jentik nyamuk, maka lingkungan itu bisa diduga sebagai epidemi demam berdarah.

“Kader kami selalu memetakan wilayah yang rawan demam berdarah. Sekurangnya ada 128 titik yang sudah dilakukan pengasapan,” pungkas Didik.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved