Kesehatan
RSSA Butuh Rp 14 sampai Rp 15 Miliar untuk Pengadaan Alat Radioterapi ini
"Tahun pertama, cobalt bisa melayani 60 pasien. Di tahun kelima, 30 pasien. Sedangkan Linac, tahun pertama 60 pasien, ditahun kelima tetap 60 pasien,"
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Rumah Sakit Dr Saiful Anwar (RSSA), Kota Malang, Jawa Timur harus menyipkan dana besar guna mendatangkan alat radioterapi. Dibutuhkan dana sekitar Rp 14 hingga Rp 15 M untuk pengadaan satu unit alat radioterapi jenis Cobalt.
Seperti diberitakan sebelumnya, dari dua alat, satu alat radioterapi yang berada di Rumah Sakit Dr Saiful Anwar (RSSA), Kota Malang rusak.
Kerusakan alat radioterapi itu ditengarai karena aliran listrik, suhu ruangan serta usia alat.
Alat radioterapi yang berada di RSSA memancarkan sumber radiasi Cobalt. Sementara itu, dengan semakin banyaknya pasien, dibutuhkan alat canggih untuk menangani pasien dalam jumlah besar.
RSSA Kota Malang berharap memiliki alat yang memancarkan sumber radiasi Linac.
"Tahun pertama, cobalt bisa melayani 60 pasien. Di tahun kelima, 30 pasien. Sedangkan Linac, tahun pertama 60 pasien, ditahun kelima tetap 60 pasien," terang dokter radiologi RSSA, dr Rafiq Sulistyo Nugroho Sp. Onk. Rad, Rabu (4/3/2015).
Dua alat itu sudah berada di RSSA sejak 2007 lalu. Alat tersebut buatan pabrikan China. Sehari, sekitar 40 hingga 50 pasien menjalani terapi dengan alat itu. Sedangkan alat radioterapi yang dibutuhkan, Linac, harganya dua kali lipat dari harga Cobalt.
"Sedangkan pasien melakukan terapi antara 25-30 sehari, lima kali seminggu selama tujuh minggu," kata Rafiq, Rabu (4/3/2015).
Alat itu diketahui rusak 2014 lalu. Di 2015 ini, RSSA Kota Malang telah mengirimkan surat permintaan untuk mengganti alat yang rusak.
"Sudah kami rencanakan tahun 2015 ini, tapi tidak bisa cepat," kata Budi Rahayu selaku direktur RSSA Kota Malang.
(Benni Indo)