Blitar

Jebol Besi Tahanan Pakai Tangan, 4 Anak Kasus Pencabulan Kabur dari Lapas

"Saat bangun, kedua teman sekamarnya itu kaget karena empat rekannya tak ada. Padahal, katanya, pukul 00.00, mereka masih terlihat belum tidur,"

Editor: fatkhulalami
www.somalicurrent.com
Ilustrasi. 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Susana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II A Anak, Blitar, Jawa Timur mendadak gempar pada Kamis (13/5/2015) dini hari.

Lapas itu kehilangan empat penghuni yang sedang menjalani masa tahanan. Empat tahanan anak kabur, setelah menjebol teralis jendela kamar yang ditempati.

Keempat anak yang kabur, yakni Bia (16), warga Kelurahan/Kecamatan Kanigoro, Chs (16), warga Desa Slorok, Kecamatan Garum, Msp (16), warga Desa Kemloko, Kecamatan Ngelegok, ketiganya asal Kabupaten Blitar, dan Rfi (15), warga Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar.

Keempatnya ditahan, terkait kasus asusila (dugaan pencabulan).

Waka Polres Blitar Kota, Kompol Hendrik Purwono menjelaskan, diduga mereka kabur pada Kamis (14/5/2015) dini hari sekitar pukul 02.00. Kejadian baru diketahui pukul 05.00.

Itu diketahui oleh dua teman sekamarnya, yang tak ikut kabur.

"Saat bangun, kedua teman sekamarnya itu kaget karena empat rekannya tak ada. Padahal, katanya, pukul 00.00, mereka masih terlihat belum tidur dan masih bercanda," kata Hendrik.

Melihat empat temannya tak ada di dalam kamar, kedua temannya panik dan ketakutan. Takut kena masalah, mereka segera melapor ke petugas.

Seketika itu, situasi dalam Lapas gempar, bahkan petugas Lapas langsung disebar, untuk mencarinya.

"Melihat bekas di TKP, sepertinya mereka tak memakai alat apapun saat membengkokkan teralis besi jendela kamarnya. Sebab, tak ada bekas alat pada tralis yang dibengkokkan itu," ujar Hendrik.

Berhasil keluar dari kamarnya, papar Hendrik, mereka tak menemukan kendala lagi karena tak ada pintu yang dilewatinya lagi. Sebab, di depan kamarnya, langsung tanaman seperti sayur-sayuran dan taman bermain anak-anak.

Bahkan, di belakang kamarnya, langsung pagar tembok LP setinggi 4 meter, dengan dilengkapi kawat berduri di atasnya.

"Tak ada kendala lain, kecuali pagar tembok LP setinggi 4 meter itu. Namun anehnya, saat kami lakukan olah TKP tadi, tak ditemukan bekas jejak kakinya di tembok atau tali yang dipakai memanjat pagar tembok itu," ungkapnya.

Ada dugaan, kalau mereka tak memanjat pagar tembok namun naik ke atas pos pantau. Sebab, informasinya kalau malam hari, pos pantau setinggi pagar tembok LP itu tak dijaga.

"Itu yang jadi heran kami.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved