Malang Raya
Perang Lawan Perokok, Mahasiswa Kedokteran Bagi-bagi 50 Kg Jeruk
Fungsi jeruk hanya untuk menetralisir asapnya saja. Sementara perokok aktif, tak akan bisa berhenti merokok meskipun memakan buah jeruk.
SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Serbanyak 200 mahasiswa kedokteran di Malang, Jawa Timur turun jalan. Mereka mengkampanyekan bahaya merokok bagi kesehatan, dan lingkungan pada masyarakat.
Kampanye ini juga unik, karena mereka membagi-bagikan jeruk pada warga, Senin (1/6/2015) .
Kordinator aksi, Irfandita memaparkan, jeruk dipilih sebagai bahan salah satu kampanye karena alasan kandungan buah itu.
“Jeruk merupakan buah antioksidan, yang mampu menangkap radikal bebas, asap rokok,” papar Irfandita ditemui di Tugu Kota, Senin (1/6/2015).
Ia menjelaskan, jeruk bisa menetralisir asap rokok di sekitar yang berbahaya bagi manusia. Dengan kehebatan buah jeruk ini, peserta aksi yang berasal dari Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran membawa jeruk dalam jumlah besar.
Saat itu ada 50 kilogram buah jeruk yang mereka bawa, lalu dibagi pada pengendara, dan warga yang melintasi kawasan aksi mereka, yaitu Tugu Kota Malang, Balai Kota, dan Stasiun Kota Malang.
“Jeruk- jeruk ini kami bagikan gratis ke mereka,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa jeruk dan perokok juga tak berhubungan. Fungsi jeruk hanya untuk menetralisir asapnya saja. Sementara perokok aktif, tak akan bisa berhenti merokok meskipun memakan buah jeruk.
"Para perokok tak akan berhenti gara-gara aksi ini," katanya.
Meski demikian, mereka mengajak para perokok untuk memahami pengaruh merokok bagi kesehatan, dan lingkungan. Ini untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, yang jatuh pada 31 Mei 2015.
Ajakan ini mereka sampaikan dengan jalan mendatangi para perokok, lalu memberi penjelasan pada perokok untuk memahami etika merokok di tempat umum, yaitu merokok di ruang merokok.
Etika itu disebabkan merokok di tempat umum membahayakan kesehatan orang lain, serta memberi contoh yang kurang baik pada anak-anak.
Zainul, salah seorang penumpang kereta di Stasiun Kota Baru Malang mengaku setuju dengan sikap para mahasiswa. Menurutnya, para perokok sudah seharusnya memahami etika untuk tidak merokok di tempat umum.
Kendati demikian, etika ini tak mudah diterapkan karena tak semua tempat umum memiliki ruang khusus merokok.
“Akhirnya kami, atau para perokok merokoknya ya di sembarang tempat,” tambah Zainul.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/mahasiswa-kedokteran-demo-rokok_20150601_201015.jpg)