Blitar
Mengharukan, TKW Asal Blitar Mati di Rumah Majikannya di Hongkong
"Jenazah adik saya sudah di dalam peti jenazah sehingga tak bisa melihatnya. Katanya, itu sudah dioutopsi di rumah sakit sehingga tak bisa dibuka,"
SURYAMALANG.COM, BLITAR - Derita tenaga kerja wanita (TKW) asal Jawa Timur sepertinya tidak ada hentinya. Kesedihan belum reda di keluarga Wiji Astutik, TKW asal Malang yang tewas dibunuh di Hongkong, kini giliran TKW asal Blitar yang meninggal di negeri orang.
Hermin Zun Ningsih (35), warga Dusun Tenggong, Desa Plumpungrejo, Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur dikabarkan meninggal di Hongkong.
( Baca Juga : Indayani, TKW Terancam Hukum Mati di Taiwan Setelah Bunuh Majikan )
Kabar itu membuat keluarganya yang tinggal di Blitar resah, karena hingga kini belum bisa memastikannya. Termasuk soal penyebab kematiannya. Yang diketahui, hanya korban meninggal dunia di rumah majikannya, Minggu (7/6/2017) lalu.
( Baca Juga : Wiji Astutik Dibunuh di Atap Gedung, Lalu Dicampakkan di Pinggir Jalan )
Sutrisno (52), kakak kandung Hermin Zun menuturkan, kabar duka itu diterimanya, Senin (8/6/2015) siang lalu. Itu didapat setelah dirinya ditelepon teman korban, Wulan (28), warga Desa Rejotangan, Tulungagung, yang sama-sama bekerja di Hongkong.
"Saya ditelepon sama Wulan. Saya kenal dengan dia karena pernah main ke rumah sini (Blitar) saat pulang dari Hongkong bersama adik saya, dulu. Dan, saya juga hafal suaranya. Saat telepon itu, Wulan memberi tahu, kalau adik saya meninggal dunia di rumah majikannya," tutur Sutrisno ditemui di rumahnya, Jumat (12/6).
Hanya saja, menurut dia, Wulan mengaku tidak tahu penyebab kematian korban. Meski dia dan para TKW lainnya sempat takziah ke rumah majikannya, namun tak mendapat penjelasan soal penyebab meninggalnya korban. Semua pihak terkesan tutup mulut.
"Katanya, saat Wulan dan teman-temannya datang ke rumah majikan adik saya, jenazah adik saya sudah di dalam peti jenazah sehingga tak bisa melihatnya. Katanya, itu sudah dioutopsi di rumah sakit sehingga tak bisa dibuka," paparnya.
Akibat tak jelas penyebabnya itu, Sutrisno akhirnya curiga jika kematian adiknya itu karena sakit. Alasannya, selama ini adiknya tak punya rekam jejak penyakit yang membahayakan. Termasuk, kalau telepon ke keluarga di Blitar, korban yang masih sendiri itu juga tak pernah mengeluh apa-apa, apalagi terkait kesehatannya.
"Ya, wajar, kalau kami dan para keluarga lainnya, curiga karena adik saya nggak pernah sakit aneh-aneh," ungkapnya.
Hanya saja, papar Sutrisno, saat kontak terakhir kali dengannya (Hermin) pada 27 April 2015 lalu, ada yang aneh pada omongan adiknya. Dalam teleponnya itu, menurutnya, omongan adiknya agak melantur.
"Saya kaget, masak, tiba-tiba ia ngomong minta dijemput ke Surabaya hari itu juga. Katanya, ia lagi perjalanan pulang. Karena ngomongnya melantur itu, akhirnya saya matikan teleponnya," ujarnya.
Dijelaskan, adiknya itu bekerja di Hongkong sudah 16 tahun dan baru pulang sekali tahun 2001. Katanya, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).
Selama bekerja di Hongkong, Sutrisno mengakui hasil yang diperoleh korban. Selain buat kebutuhan keluarganya, juga dibelikan sawah, pekarangan, dan buat merenovasi rumah ibunya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/tkw-blitar_20150612_155929.jpg)