Mbah Muchit Muzadi Berpulang
Ini Pesan Terakhir Mbah Muchit Muzadi Sebelum Meninggal Terhadap NU
“Selama 30 tahun, beliau melihat NU tidak lagi seperti dulu, NU sudah tidak lagi murni untuk kepentingan agama dan kebangsaan,”
Penulis: sulvi sofiana | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Posisi Nahdatul Ulama (NU) saat ini sudah terkooperasi dengan partai politik. Hal ini dirasakan almarhum KH Abdul Muchit Muzadi semasa hidup. Kondisi NU, kini sudah berubah dari hakikat awalnya.
Itulah pesan Mbah Muchit yang disampaikan ke adik kandungnya, KH Hasyim Muzadi sebelum meninggal dunia di RS Persada Malang pukul 04.00.
“Selama 30 tahun, beliau melihat NU tidak lagi seperti dulu, NU sudah tidak lagi murni untuk kepentingan agama dan kebangsaan,” jelas pimpinan pondok pesantren Al-Hikam Malang ini.
Dikatakan Hasyim, Mbah Muchit sampai akhir hayatnya senantiasa memikirkan NU dan dalam kondisi sakit pun ia hadir dalam kegiatan-kegiatan NU, terutama dalam kegiatan kaderisasi NU yang diikuti oleh anak-anak muda NU.
Mbah Muchith juga berpesan padanya agar NU kembali seperti tahun 1964 yang berbakti pada Negara Kesatuan Republik Indonesi (NKRI).
Sebagai kakak dari 8 bersaudara, Mbah Muchit -sapaan akrab KH. Abdul Muchit Muzadi- juga berpesan pada Hasyim agar menjaga anggota keluarganya yang lain.
Mbah Muchit meninggal dunia setelah sekitar 3 minggu dirawat di RS Persada Malang. Jenazah kemudian dimandikan dan disalatkan di Masjid Al Hikam Malang.
Hilman Wajdi, putra KH Hasyim Muzadi menjelaskan, karena faktor usia Mbah Muchit memang sudah lama mengurangi aktivitasnya. Bahkan dalam muktamar NU di Jombang beliau tidak hadir.
“Tetapi beliau sempat ke Jombang setelah muktamar, sowan ke KH Hasyim Asy’ari,” terangnya.
Beliau juga sempat pulang ke Jember selama beberapa jam sebelum kembali ke Malang dan kondisinya menurun hingga harus dirawat di rumah sakit. Selama dirumah sakit, santri pondok Al Hikam bergantian berjaga.
“Beliau sering minta naik kursi roda diajak berkeliling sekitar kamar karena bosan. Biasanya semalaman tidak tidur atau sebaliknya,” jelasnya.
Dikatakan Hilman, mulai Kamis (3/9/2015) malam, bacaan yasin selalu dibacakan untuk beliau.
“Semalam beliau masih sadar dan sempat berpamitan dengan bude juga,” tegasnya.
Setelah disalati, jenazah kemudian diberangkatkan ke Jember, tanah kelahiran Mbah Muchit untuk dimakamkan berdampingan dengna istrinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/kh-muchid_20150906_080646.jpg)