Malang Raya
Mahasiswa Unmer Malang Ini Terus Kejar Prestasi Dunia Lari Gunung
Pelari gunung di Indonesia banyak dan perlu mendapat perhatian semua pihak. Apalagi tak jarang dari event lombanya berskala internasional.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, SUKUN - Pelari gunung, Joanico Coli Chepeda (23) tak henti memburu prestasi tingkat dunia. Mahasiswa semester 6 jurusan manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Merdeka Malang ini ingin mengikuti lomba lari gunung pada Juni 2016 di Philipina.
"Kalau dapat prestasi di Philipina, saya baru ikut ke ultra run Mont Blanc," ujar Joan, pria kelahiran Timor Leste yang kemudian keluarganya tinggal di NTT kepada SURYAMALANG.COM beberapa waktu lalu.
Ultra run adalah lari gunung dengan jarak di atas 42 Km.
Lomba lari di Philipina jaraknya 100 Km di kawasan pegunungan.
"Mont Blanc Prancis yang digelar tiap Agustus," ungkapnya.
Terakhir ia mengikuti Tambora Trail Run 24Km-42 Km baru-baru ini ketika ada perayaan "Tambora Menyapa Dunia". Saat itu, pesertanya ada 68 pelari dari 20 negara.
Peserta dari Indonesia ada 20-an, termasuk dirinya. Meski hanya meraih juara 3, namun ia tetap bangga karena banyak diikuti pelari mancanegara. Juara pertama lomba itu adalah pelari gunung dari Amerika.
Tiga event yang diikutinya dan meriah juara adalah juara 3 lari internasional Mount Rinjani 52 Km ultra run pada 2014. Sebelumnya meraih juara 1 lari internasional Bromo-Tengger-Semeru Ultra for Men pada 2013.
Terbaru sebagai juara 3 lari internasional Tambora Trail Run 24 Km-42 Km pada 2015. Karena prestasinya, Joan baru mendapat penghargaan sebagai Duta Kehormatan Unmer 2015 pekan lalu di Balai Merdeka Malang.
"Tapi sejak 2013, saya dapat beasiswa dari kampus. Menurut saya, itu sudah bentuk apresiasi kampus ke prestasi saya," ungkap dia.
Dijelaskan, sebelum mengikuti lomba lari gunung itu, ia mempersiapkan diri. Seperti sering sering berlatih di gunung. Misalkan ke Gunung Arjuno. Minimal sehari ia harus latihan lari 15 Km. Awal kesukaan mengikuti lomba lari gunung karena ia kerap naik gunung dengan Imapala Unmer dimana ia bergabung sebagai anggotanya.
Agar staminanya terjaga, ia sangat menjaga pola makan dan rajin latihan dan mental. Untuk latihan lari di gunung, ia biasanya tas kecil yang ringan, hydro bag berisi pisang, kurma dan air minum.
Ia menyatakan memiliki pelatih khusus yaitu seniornya di Imapala Unmer yaitu Hudin Prasetyo dan Iwan Cemot. Tentang komunitas pelari gunung, lanjut dia, di Malang banyak. Ada sekitar 30-an. Ia mengikuti komunitas Gimbal Alas Malang.
Namun diakui ia tak selalu memang. Pernah pada Oktober 2015 ia mengikuti lomba di Malaysia sebagai perwakilan kampus. Namun mengalami cedera sobek otot. Duka lainnya kadang tersesat jika petunjuknya tidak jelas. Seperti ketika mengikuti kegiatan di Gunung Ijen pada 2014.
"Saya hampir jatuh di jurang," ungkap anak kedua dari 5 bersaudara pasangan Joao Chepeda-dan Theresia da Costa.
Anak TNI ini berujar, pelari gunung di Indonesia banyak dan perlu mendapat perhatian semua pihak. Apalagi tak jarang dari event lombanya berskala internasional.