Jombang
Unik, Barongsai, Salawat dan Paduan Suara Gereja Dalam Satu Panggung di Haul Gus Dur
Acara bertema ‘Meneguhkan Jombang sebagai Kota Toleran’ diisi berbagai pergelaran budaya dari berbagai latar belakang berbeda yang semuanya...
SURYAMALANG.COM, JOMBANG - Ketokohan mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terus dikenang, meski sudah enam tahun wafat.
Setelah sebelumnya haul Gus Dur digelar di Ponpes Tebuireng, giliran komunitas lintas iman menggelar acara serupa, di Aula Kodim Jombang, Rabu (30/12/2015) malam.
Acara bertema ‘Meneguhkan Jombang sebagai Kota Toleran’ diisi berbagai pergelaran budaya dari berbagai latar belakang berbeda yang semuanya mencerminkan semangat kerukunan dan kebersamaan.
Di antaranya seni Besutan, seni Barongsai, lantunan salawat, lagu-lagu khas Jombangan, keroncong asli dan modern serta paduan suara khas gereja dan ‘poetry reading’.
Sekitar 500 undangan yang hadir di Aula Makodim berkali-kali memberikan aplaus kepada penampilan grup-grup seni dan budaya ini.
Ketika grup Barongsai unjuk kebolehan dengan atraksi gerakan kung fu-nya, tepuk tangan ratusan undangan membahana berkepanjangan. Demikian pula ketika lantunan salawat mengumandang dan disusul paduan suara khas gereja.
Selain pagelaran budaya, acara yang dibuka Wakil Bupati Jombang, Hj Mundjidah Wahab ini juga diisi dengan testimony sejumlah tokoh yang mengenal Gus Dur semasa hidup.
Dalam sambutannya, Hj Mundjidah menegaskan, Gus Dur bisa menjadi bapak pluralisme karena memperhatikan minoritas, bukan hanya mengayomi kelompok mayoritas.
"Dan Gus Dur akhirnya dikenal bukan hanya menjadi bapak pluralisme Indonesia, melainkan juga bapak pluralisme dunia," jelas putri salah pendiri NU KH Wahab Chasbullah.
Testimoni disampaikan KH M Abdul Ghufron al-Bantani, teman perjalanan spritual Gus Dur. Menurutnya, yang perlu diteladani dari Gus Dur adalah kegigihannya menjaga keutuhan NKRI.
“Gus Dur rajin mendatangi tokoh-tokoh agama dari satu agama ke agama lain. Dan itu adalah untuk menjaga NKRI dari rongrongan pihak-pihak yang ingin memecah belah NKRI,” Demikian jelas KH Ghufron.
Maria dari Indonesia Tionghoa (Inti) Jombang, mengungkapkan, peringatan haul Gus Dur oleh komunitas lintas agama digelar setiap tahun di Jombang. Ini pertanda Gus Dur memang nyata-nyata bisa diterima di semua kalangan.
“Orang Tionghoa sudah seharusnya berterima kasih kepada Gus Dur. Karena akhirnya seni budaya barongsai boleh ditampilkan, dan Imlek bisa dirayakan,” terang Maria.
Ketua panitia M Fathoni Mahsun, mengungkapkan, acara haul ini digagas 18 komunitas lintas agama. Antara lain Lakpesdam NU Jombang, GP Ansor Jombang, Inti, Badan Kerja Sama Gereja-gereja (BKSG) Jombang, PC PMII Jombang, Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi) NU, Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Jombang.
Kemudian Gereja Jawi Wetan (GKJW), Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Masa Depan Cerah (MDC), Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), LSM Rumah Hati, LSM al-Harakah, LSM Women’s Crisis Center, Institut Islamic Center for Democracy and Human Rights Empowerment (Ichdre), PITI, Gereja Katolik, dan Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT).
“Digelar 18 lembaga, dihadiri puluhan lembaga yang lain serta segenap Forpimda Jombang,” kata Fathoni.