Malang Raya
E-Parkir Diterapkan di Malang, Juru Parkir Bakal Jadi Pengangguran
Achmad, jukir di depan Mitra 1 Jl Agus Salim Kota Malang mengatakan, E-Parkir hanya bisa diterapkan di tempat tertentu.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Achmad, jukir di depan Mitra 1 Jl Agus Salim Kota Malang mengatakan, E-Parkir hanya bisa diterapkan di tempat tertentu. Misalkan di mal.
Seperti saat ini, di mal-mal sudah ada perusahaan yang mengelola parkir. Sehingga kebutuhan tenaga kerjanya minim, yaitu dua orang.
"Kalau di jalan-jalan, ya tetap jukir biasa," tutur Achmad kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (26/5/2016) di sela aksi di depan Balai Kota Malang yang menolak wacana E-Parkir.
Karena itu, ketika ada wacana E-Parkir, ia menyatakan rasa tidak setujunya.
"Pasti banyak jukir tidak bekerja sebagai dampaknya," kata dia.
Ia memberi contoh jumlah jukir mulai depan Mitra 1 sampai Hotel Santoso Jl Agus Salim ada 20 orang yang bekerja. Mereka bekerja secara shift. Sehingga sistem kerjanya dua hari sekali bekerja.
"Jangan dikira bekerja tiap hari," aku Achmad.
Jukir di sana bekerja mulai jam 09.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Sehingga bekerja bergantian.
"Kalau E-Parkir, jukir lainnya pasti menganggur," kata dia.
Jumlah jukir di Kota Malang sekitar 3.000-an dengan jumlah titik parkir sekitar 500.
Masing-masing titik tidak sama target setorannya karena kondisinya berbeda-beda. Ada yang ramai, ada yang biasa.
Jika target tidak sesuai, maka jukir juga menggantinya. Belum lagi beban jukir ketika ada kehilangan kendaraan.
Sedang Nanang Matos menyatakan ada 100 jukir di Matos. Mereka dibagi kerja dua shift. Sehingga bekerja dua hari sekali.
"Kita hanya ingin makan saja. Soal kebocoran dari parkir, bukan dari kita," tandas Nanang.
Menurut dia, di parkir lebih menekankan sosial keamanan sehingga terjadi Iklim kondusif.
"Kalau ada jukir nakal, ya oknum. Jukir hanya menjual jasa," kata dia.