Malang Raya

Emas Ratusan Juta Dilelang, Pembeli Bisa Angsur Tiga Tahun

Lelang emas digalar di satu tempat dari perhimpunan sembilan kantor cabang. Sebenarnya, perusahaan itu memiliki sepuluh kantor cabang.

Emas Ratusan Juta Dilelang, Pembeli Bisa Angsur Tiga Tahun
SURYAMALANG.COM/Aflahul Abidin
Warga melihat perhiasan dalam Lelang emas dan perhiasan di kantor Pegadaian, Jalan Halmahera, Kota Malang, Senin (29/8/2016). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN  – Jumlah emas gadai yang tidak ditebus dipegadaian di Kota Malang, Jawa Timur sebanyak lima persen. Tingkat perbandingan jumlah tebus-tidak ditebus itu rata-rata tidak terlalu mencolok dibanding barang jaminan lain. Emas yang tidak dijual akhirnya dilelang saban bulan dua kali.

Dalam sekali lelang, jumlah nominal emas yang dilelang mencapai ratusan juta.

Asmen Penjualan PT Pegadaian (Persero) Kantor Area Malang, Akhmad Rofii, menjelaskan, kecenderungan untuk tidak menebus emas jaminan disebabkan beberapa faktor.

Selain faktor ekonomi yang menyebabkan ketidakmampuan nasabah menebus emas jaminannya, Rofii menyebut, tak sedikit juga nasabah yang memang sengaja menggadaikan emasnya untuk tidak ditebus.

“Misalnya, mereka sudah tidak suka dengan barangnya, jadi digadaikan saja dan tidak ditebus. Atau malu karena emasnya tidak bersurat,” katanya, sela lelang emas di Kantor Cabang Pegadaian di Jalan Halmahera, Kota Malang, Senin (29/8/2016).

Sistem penebusan barang gadai di perusahaan pelat merah itu bertenggang waktu empat bulan. Lepas dari waktu itu, nasabah akan diberi peringatan untuk segara menebus hingga jangka waktu sebulan. Jika tidak ada respons, perusahaan itu akan melelang barang gadai. Khusus emas, kata dia, lelang terbanyak ada pada jenis perhiasan.

Lelang emas digalar di satu tempat dari perhimpunan sembilan kantor cabang. Sebenarnya, perusahaan itu memiliki sepuluh kantor cabang. Namun, satu kantor cabang tidak masuk dalam agenda karena jangkauannya terlalu jauh, yakni berada di luar kota.

Rofii mengklaim, harga yang ditawarkan pada lelang lebih rendah dibanding harga pasaran. Ambil contoh, untuk emas 24 karat dengan kadar kemurnian mendekati 100 persen, pihaknya menjual seharga Rp 570.000. Harga itu, ujar dia, lebih rendah dibanding harga di pasaran.

“Kalau di pasar, masih ada tambahan harga untuk ongkos transportasi, sewa tempat berjualan dan lainnya,” tambahnya.

Pegadaian juga menawarkan pembelian emas dengan sistem cicilan pada lelang itu. Batas maksimal, cicilan bisa dilakukan hingga tiga tahun.

Pada lelang kali itu, sebagian besar barang yang dijual meliputi kalung, gelang, cincin, dan anting-anting. Salah satu petugas pegadaian mengatakan, harga paling mahal untuk satu biji perhiasan mencapai sekitar Rp 20 juta.

Salah satu pembeli dalam lelang itu, Endang Sukmawati, mengaku, sengaja mencari emas hasil lelang di Pegadaian untuk barang investasi. Saban ada kegaitan serupa di tempat yang sama, ia selalu datang. Hal yang membuat dia tertarik adalah keringanan untuk membeli dengan cara mencicil.

“Tidak untuk dipakai. Saya beli sekarang untuk dijual nanti kalau harganya sedang naik,” ujar warga Mergosono, Kecamatan Kedungkandang itu.

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved