Malang Raya
Wayang Potehi Masuk Kampus di Malang, Ceritanya Seperti Ini
Pertunjukan hampir dua jam itu mengisahkan pemuda yang tekun sehingga mencapai keberhasilan. Pertunjukan ini menampilkan 15 tokoh.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, DAU - Wayang potehi dari Gudo Kabupaten Jombang manggung di theater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (18/11/2016). Kehadiran wayang potehi ini merupakan rangkaian Festival Seni Budaya 2016 yang diadakan Lembaga Kebudayaan UMM sampai Sabtu (19/11/2016).
Dalang wayang potehi, Sony Frans Asmara (39) menampilkan cerita Sie Djien Koe. Sie Djien Koe adalah nama pendekar.
Pertunjukan hampir dua jam itu mengisahkan pemuda yang tekun sehingga mencapai keberhasilan. Pertunjukan ini menampilkan 15 tokoh.
“Biasanya ceritanya menampilkan legenda Tiongkok,” tutur Sony.
Pertunjukan ini biasa ditampilkan di klenteng. Seiring perkembangan jaman, wayang potehi merambah berbagai tempat, seperti pondok pesantren, gereja dan kampus.
Tokoh wayang menyesuaikan lokasi pertunjukan. Bila tampil di gereja, tokoh yang ditampilkan berbeda dengan tokoh saat tampil di ponpes.
“Saat tampil di Ponpes Tebu Ireng, ceritanya soal santri,” terang pria yang menjadi dalang sejak dua tahun ini.
Sony membekali diri dengan bahasa bahasa Tiongkok Hokkian, Indonesia, dan Jawa.
“Karena kalau tampil di klenteng, bahasanya campuran. Kalau Hokkian semua, ada yang tidak mengerti alur ceritanya. Saya gabung dengan Bahasa Indonesia dan Jawa,” terangnya.
Kegiatan dibuka Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid PhD, dan diskusi budaya yang menghadirkan dosen UMM, Arif Budi Wurianto.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/wayang-potehi-tampil-di-umm_20161118_180511.jpg)