Selasa, 28 April 2026

Geliat Bisnis Online di Malang Raya

Platform Marketplace Terlalu Memanjakan Pembeli, Pedagang Online Rugi

Tantangan jualan online semakin tidak mudah. Penyedia platform sering kali membuat aturan yang sangat memberatkan penjual.

|
Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Dya Ayu
BELI BAJU - Calon pembeli memilih baju yang dipajang di platform marketplace, Minggu (12/4). Marketplace mempermudah masyarakat belanja kebutuhan sehari-hari secara online. 

Ringkasan Berita:
  • Penyedia platform sering membuat aturan yang memberatkan penjual.
  • Sekarang pembeli bisa langsung return tanpa konfirmasi ke penjual.
  • Pembeli offline lebih jelas, dan tidak ada drama return yang aneh-aneh.

 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Suara riuh para pegawai berpadu dengan sapaan ramah terdengar bersahutan dari dalam toko di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (12/4).

Lampu ring light menyala terang, dan seorang pegawai berdiri di depan kamera ponsel, tersenyum lebar sambil mengangkat sehelai gamis berwarna pastel.

"Ini best seller, kak! Bahannya adem dan nyaman banget dipakai," ujar pegawai itu di depan kamera yang dipasang di toko Oliviamo.id milik Olivia Monica.

Di ruangan lain, beberapa pegawai tampak sibuk melipat pakaian dengan rapi, menyusun gamis berdasarkan warna dan ukuran.

Rak-rak penuh busana gamis berjejer. Tumpukan kardus di sudut ruangan itu menandakan betapa tingginya arus transaksi yang keluar-masuk di toko tersebut.

Olivia mengatakan tantangan jualan online semakin tidak mudah. Penyedia platform sering kali membuat aturan yang sangat memberatkan penjual.

"Kalau dilihat dari luar, jualan online itu memang kelihatan ramai dan hidup. Tapi sebenarnya sekarang jualan online itu semakin berat," ujar Olivia kepada SURYAMALANG.COM.

Olivia mencontohkan kebijakan baru terkait sistem pembayaran Cash on Delivery (COD) yang akan segera diberlakukan dalam waktu dekat. Selama ini banyak barang yang dikembalikan itu bukan karena kesalahan penjual.

"Sering sekali barang dikembalikan karena alasannya ditolak di aplikasi atau tidak ada respons dari customer. Padahal sebenarnya barangnya tidak pernah diantar," terangnya.

Penjual pun terbebani setiap barang yang gagal sampai ke tangan pembeli. "Kalau COD ditolak, kami kena biaya Rp 10.000 per barang. Padahal itu bukan kesalahan kami," urainya.

Dalam masa sebelum Lebaran kemarin, ada pengembalian barang yang mencapai 50 item. "Kalau barang yang ditolak itu sampai satu karung per hari, kerugiannya bisa sampai jutaan Rupiah sebulan," lanjutnya.

Masalah lainnya  datang dari sistem pengembalian barang atau return. Dulu barang yang akan dikembalikan harus ada verifikasi yang melibatkan penjual. Kini, semuanya berjalan otomatis, dan dikendalikan sepenuhnya oleh penyedia platform.

"Sekarang pembeli bisa langsung return tanpa konfirmasi ke kami. Barang langsung dikirim balik, dan penyedia platform langsung memotong dananya," jelasnya.

Tak jarang alasan pengembalian tidak logis. Tanpa dialog dengan pembeli, Olivia pun terpaksa menerima kembali barangnya, dan harus membayar biaya transportasi.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved