Kilas Balik Malang
Terpopuler 2016 : Kisah Pilu Rifky dan Irfan, Demam Berdarah Merenggut Mereka
Adik-kakak, warga Kelurahan Madyopuro, Kecamaran Kedung Kandang, Kota Malang, meninggal usai terserang Demam Berdarah (DB).
Kisah pilu dari adik-kakak asal Madyopuro, Malang, menyentak dan menguras air mata pembaca SURYAMALANG pada Januari 2016 silam.
Peristiwa ini memberi kita semua gambaran, betapa Demam Berdarah masih menjadi pembunuh berdarah dingin yang ada di sekitar kita.
Simak kembali kisah pilu tersebut :
SURYAMALANG.COM - Adik-kakak, warga Kelurahan Madyopuro, Kecamaran Kedung Kandang, Kota Malang, meninggal usai terserang Demam Berdarah (DB).
Sang adik, Irfan Dwi F (13) meninggal Kamis (31/12/2015) setelah sepekan di rawat di IGD RSUD Saiful Anwar.
Sementara kakaknya, Mohammad Rifky P (17) meninggal tiga hari sebelumnya akibat penyakit yang sama saat dirawat di salah satu rumah sakit di Denpasar, Bali, saat berlibur.
Keduanya diduga terjangkit DB di waktu bersamaan.
Rifky berangkat ke Denpasar, ke rumah bibinya, Minggu (20/12/2015) malam. Esok harinya, ia merasa demam dan pusing di kepala.
Sang bibi mengabarkan hal itu ke orangtua Rifky yang berada di Malang. Rifky merupakan anak pertama pasangan Zainal Arifin (41) dan Tatik Mawarti (41).
"Mendengar cerita itu saya kaget karena Irfan juga menderita gejala yang sama," kata Awik, panggilan akrab Zainal Arifin, saat ditemui di rumah duka, Kamis (31/12/2015).
Mereka kemudian diperiksakan di klinik yang berbeda-beda. Menurut dokter, lanjut Awik, keduanya positif terjangkit DB. "Awalnya Irfan saya periksakan saja di klinik. Terus di bawa pulang. Tapi, setelah lima hari, dia kok semakin parah. Akhirnya saya larikan ke IGD RSSA," lanjut Awik.
Dari hasil pemeriksaan, DB yang menyerang Irfan sudah sampai pada stadium tiga. Kondisinya sudah cukup parah: jaringan organ dalam tubuhnya seperti otak, paru-paru, dan jantung, sudah diserang virus yang dibawa oleh nyamuk tersebut.
"Kondisi keduanya sudah memprihatinkan. Trombisitnya turun drastis dari awalnya saat periksa pertama sang kakak 16.000 dan sang adik 15.000. Lalu saat diperiksakan beberapa hari setelah itu sudah turun drastis tinggal 6.000 dan 5.000," tambahnya.
Beberapa hari di rumah sakit, kondisi Irfan sudah sulit diajak berkomunikasi. Dia lebih sering mengamuk dan marah-marah. Suhu badannya pun tak pernah turun sejak pertama dirawat.
Saat Awik mendengar kabar bahwa anak pertamanya koma dan meninggal, Irfan dalam keadaan kejang-kejang. Kondisi itu, kata dia, berlangsung hingga Irfan meninggal dunia.