Pilkada Kota Malang
Inilah Sejumlah Contoh Kampanye Hitam Selama Pilkada Kota Malang
#MALANG - Tiga tim sukes pasangan calon mengakui adanya kampanye hitam yang menyerang jagoan masing-masing. Contohnya-->>
Penulis: Benni Indo | Editor: yuli
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Pilkada Kota Malang mulai memanas. Tiga tim sukes pasangan calon mengakui adanya kampanye hitam yang menyerang jagoan masing-masing.
Kampanye hitam ini belakangan terjadi setelah ada penetapan tersangka terhadap dua calon yakni M Anton dan Ya'qud Ananda Gudban.
Juru Bicara Menawan, Pasangan Calon Wali Kota Malang dan Wakil Wali Kota Malang nomor urut satu Ya'qud Ananda Gudban - H. Ahmad Wanedi, Dito Arief berharap agar proses demokrasi, yakni Pilkada Malang 2018 tidak diwarnai dengan penyebaran isu atau informasi palsu yang sengaja disampaikan untuk menjatuhkan citra.
Ia cukup menyesalkan, ada beberapa oknum yang menyebarkan info palsu langsung dari mulut ke mulut di masyarakat yang menyebut jika Ya'qud Ananda Gudban korupsi Rp 700 juta dari kasus P-APBD 2015.
"Saya tegaskan, Mbak Nanda masih diduga menerima suap dan angkanya bukan Rp 700 juta, tapi Rp 15 juta dan kasus ini belum terbukti secara hukum di persidangan," kata Dito, Sabtu (24/3/2018)
Berita itu, lanjut Dito, ia dapatkan dari hasil temuan tim di lapangan, ada beberapa oknum yang membicarakan perihal kasus suap APBD P 2015 dan dihubungkan dengan tersangka dari dua calon wali kota.
Dipaparkan Dito, oknum yang tidak diketahui itu, membicarakan kepada masyarakat jika Nanda diduga menerima uang Rp 700 juta. Padahal, berdasarkan rilis dari KPK, Nanda Gudban diduga menerima Rp 15 juta.
"Kalau mau berdemokrasi secara sehat di Pilkada Malang janganlah menyebarkan isu yang menyesatkan masyarakat. Kita sudah tekad bersama memerangi hoax dalam bentuk apapun," tandasnya.
Dito menegaskan, jika saat ini pihaknya menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan tim akan memperjuangkan keadilan atas kasus ini.
"Saya yakin ketika kita didholimi seperti ini, doa kita akan menembus langit dan dikabulkan oleh Allah," ucapnya.
Kasus hukum yang saat ini sedang dihadapi, lanjut Dito Arief, tidak menyurutkan langkah Mbak Nanda dan Sam Wanedi untuk terus berkampanye menyapa masyarakat.
Sementara itu, Arief Wahyudi mewakili Timses Paslon nomor 2, yakni M Anton dan Syamsul Mahmud mengatakan tidak menyukai adanya kampanye hitam yang beredar. Namun nyatanya, Arief mendapati sendiri fakta adanya kampanye hitam di sosial media.
"Walaupun tidak kami sukai, tapi itu kondisi lapangan yang ada," paparnya.
Timses paslon nomor 2 melihat, pihak lain kerap menyerang Anton saat menjabat sebagai Walikota Malang. Kali ini, serangan semakin santer ketika Anton ditetapkan sebagai tersangka.
"Abah Anton terseret pusaran besar tersangka, kamoanye hitam itu kami akui membuat pendukung abah marah," imbuh Arief.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/yaqud-ananda-gudban-ikuti-psikotes-di-rs-saiful-anwar-kota-malang-kamis-1112018_20180111_083506.jpg)