Malang Raya
BPS Kota Malang Lakukan Pendataan Potensi Desa dan Kelurahan
BPS Kota Malang melakukan survei potensi desa (Podes) selama bulan Mei 2018. Survei POdes dilakukan di 57 kelurahan se-Kota Malang.
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang melakukan survei potensi desa (Podes) selama bulan Mei 2018. Survei POdes dilakukan di 57 kelurahan se-Kota Malang.
Kepala BPS Kota Malang M Sarjan mengatakan survei Podes untuk memotret potensi desa di seluruh Indonesia. Terakhirsurvei Podes dilakukan tahun 2014 di Indonesia.
"Tujuannya adalah menghasilkan data potensi desa/kelurahan tentang sosial, ekonomi, sarana dan prasarana wilayah. Juga menghasilkan data klasifikasi/tipologi desa, juga sebagai sumber dayta pemutakhiran peta wilayah kerja statistik, serta informasi dasar untuk Sensus Penduduk tahun 2020," ujar Sarjan, Sabtu (5/5/2018).
Survei Podes di Kota Malang, kata Sarjan, melibatkan 13 orang petugas. Nantinya, petugas bakal menggali informasi dari aparat desa atau kelurahan, aparat tingkat kecamatan, sampai kabupaten dan kota.
"Pak Sekda (Sekretaris Daerah) juga akan kami jadikan narasumber. Selain narasumber orang, kami juga akan menelusuri dokumen, juga bertanya kepada jajaran kepolisian dan TNI di tingkat kecamatan dan kota. Petugas masing-masing OPD di Pemkot Malang juga akan kami jadikan narasumber," ujar Sarjan.
Karenanya, dia berharap kepada semua pihak untuk menerima secara terbuka petugas Podes. Serta memberikan data secara benar tentang kondisi wilayah, dan kependudukan di wilayah masing-masing.
Informasi yang dikumpulkan dalam survei Podes meliputi kependudukan dan ketenagakerjaan, perumahan dan lingkungan hidup, bencana alam dan mitigasinya, pendidikan dan kesehatan, sosial budaya, olahraga dan hiburan, angkutan, komunikasi, dan informasi, penggunaan lahan, ekonomi dan keamanan, keuangan dan aset desa, penggunaan dana desa, serta pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa/kelurahan.
Ada 11 item informasi yang dikumpulkan itu di dalamnya mencakup lebih banyak aspek yang lebih detil. Tentang kependudukan dan ketenagakerjaan misalnya, di dalamnya ada aspek tentang jumlah penduduk, tenaga kerja Indonesia (TKI), juga produk unggulan.
Sedangkan perihal perumahan dan lingkungan hidup di dalamnya ada perihal tentang listrik, penanganan sampah, juga pencemaran.
Lalu tentang angkutan, komunikasi dan informasi di dalamnya meliputi prasarana dan sarana transportasi, sinyal seluler, juga kantor pos.
"Jadi nanti akan diketahui ada berapa banyak jumlah desa/kelurahan se-Indonesia. Kemudian ada berapa banyak desa/kelurahan yang terkena pencemaran baik air, udara. Bahkan sebaran jangkauan sinyal seluler juga akan diketahui. Termasuk apakah di daerah itu ada potensi kerusuhan sosial atau tidak," tegas Sarjan.
Nantinya potret potensi wisata desa/kelurahan juga akan diketahui. Jika mengacu kepada data POdes 2014, jumlah desa/kelurahan di Indonesia mencapai 82.190 unit. Ada 16.830 desa yang belum terjangkau sinyal seluler. Dari jumlah desa/kelurahan itu sebanyak 88,04 persen desa/kelurahan bekerja atau mengandalkan sektor pertanian.
Sedangkan potensi wisata desa yang terpotret di tahun 2014 meliputi desa wisata alam, desa wisata memiliki taman rekreasi, desa wisata memiliki wisata tirta, wisata budaya, juga kebun binatang.
"Mungkin tahun ini akan lebih banyak lagi jumlah desa wisata ini," tegas Sarjan. Hasil dari survei POdes ini akan ditampilkan pada Desember 2018. Sarjan kembali meminta kepada semua pihak yang menjadi narasumber nanti untuk membantu petugas data POdes yang sudah bekerja sejak 1 Mei 2018 lalu.