Breaking News:

Islam

Bu Nyai Menopause Sehingga Rela Dimadu, Tapi Begini Sikap Kiai Abdul Mannan

Nafsu seksual laki-laki memang terus hidup selama hayat masih di kandung badan. Tetapi poligami bukan satu-satunya cara untuk mengatasi.

Editor: yuli
nu online
Mbah Kiai Abdul Mannan, salah seorang pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkyudan Surakarta pada tahun 1930-an. Beliau adalah ayah dari Mbah Kiai Ahmad Umar Abdul Mannan yang mengasuh pesantren tersebut hingga beliau wafat pada tahun 1981. 

Pertanyaannya adalah mengapa Mbah Nyai Mushlihah minta dimadu dan mengapa pula Mbah Kiai Abdul Mannan menolaknya?

Baca: Cari Suami Setelah Menjanda, Shinta Bachir Ngaku Rela Dipoligami, Syaratnya

Baca: Cara Nabi Muhammad Memperlakukan Anak-anak Tirinya

Minta Dimadu

Berdasar penuturan salah seorang putri Mbah Kiai Abdul Mannan, yakni Mbah Ngismatun Sakdullah Solo—biasa dipanggil Mbah Ngis (wafat 1994)—Mbah Nyai Mushlihah secara terus terang memohon kepada Mbah Kiai Abdul Mannan sebagai suami untuk menikah lagi dengan alasan karena beliau merasa sudah tua dan tak sanggup lagi memenuhi kewajibannya melayani hubungan suami-istri setelah menopause.

Memang wanita yang sudah menopause pada umumnya mengalami banyak perubahan yang menyebabkan hilangnya gariah seksual dan menurunnya kemampuan berhubungan seks yang jika dipaksaan menimbulkan ketidaknyamanan baik secara fisik maupun psikis.

Jadi alasan permintaan Mbah Nyai Mushlihah kepada Mbah KH Abdul Mannan untuk berpoligami bersifat personal sebagaimana permintaan Siti Sarah kepada Nabi Ibrahim. Hanya bedanya, Siti Sarah belum dikaruniai seorang anak pun, sedangkan Mbah Nyai Mushlihah sudah dikaruniai anak yang dilahirkan sendiri lebih dari 6 orang termasuk Mbah Ngis.

Untuk itu Mbah Nyai Mushlihah bersedia melamarkan siapa pun yang dipilih Mbah Kiai Abdul Mannan untuk dijadikan madunya dengan maksud supaya hak-hak Mbah Kiai Abdul Mannan sebagai suami tetap bisa terpenuhi karena libido seksual laki-laki bertahan sampai mati.

Meski Mbah Kiai Abdul Mannan sadar bahwa sang istri rela dimadu, beliau menolak permintaan itu karena pada dasarnya beliau tidak menginginkan poligami. Tentu ada beberapa alasan yang pada intinya demi menghindari mudarat yang lebih besar daripada kemanfaatannya.

Poligami sudah pasti berpotensi menimbulkan kecemburun dan permusuhan di antara para istri dan anak-anak sebagaimana Siti Sarah mencemburui Siti Hajar dan bersikap tidak ramah. Padahal kehadirannya sebagai istri kedua atas permintaan Siti Sarah sendiri.

Memilih Puasa

Di kalangan pesantren dikenal 3 tipologi kiai, yakni kiai ‘alim, kiai ‘abid dan kiai ‘arif. Secara sederhana, kiai ‘alim adalah kiai yang berpengetahuan ilmu agama luas dan banyak berkiprah di pengajaran ilmu-ilmu agama seperti di pesantren atau majelis-majelis ta’lim.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved