Malang Raya
35 Caleg Dilayani di RSSA Kota Malang, Hanya 5 Orang Jatah untuk Umum
Wakil Direktur Medik Keperawatan RSSA, Dr Hanif Noersjahdu menjelaskan, dari 40 orang per hari, 35 untuk caleg dan lima orang untuk umum
Penulis: Benni Indo | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Setelah secara terbuka meminta maaf, pihak RS Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang menjelaskan bahwa mereka masih memberikan pelayanan kepada masyarakat umum. Dari 40 orang per hari, tidak semuanya dikhususkan kepada caleg.
Wakil Direktur Medik Keperawatan RSSA, Dr Hanif Noersjahdu menjelaskan, dari 40 orang per hari, 35 untuk caleg dan lima orang untuk umum. Kondisi itu berlaku hingga tanggal 17 Juli 2018.
"Setelah tanggal 17, kembali normal," ujar Hanif, Kamis (5/7/2018).
Baca: Warga Layangkan Kritik Soal Pelayanan yang Tidak Bersahabat, Ini Respon RSSA Kota Malang
George da Silva, seorang warga Kabupaten Malang yang baru selesai melakukan tes untuk Bawaslu membenarkan informasi itu. Ia mendapat informasi kalau setiap harinya RSSA masih menerima pasien umum.
"Jadi 35 untuk caleg, sisanya untuk umum. Sebetulnya untuk caleg ini sudah jauh-jauh hari, tapi baru diurus belakangan," jelas pria kelahiran Ende itu.
Sebelumnya, audiensi antara warga dengan Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) dilaksanakan di RSSA, Kamis (5/7/2018). Lima orang perwakilan warga ditemui oleh lima orang dari perwakilan RSSA.
Dari warga, hadir pula Eka Fatmawati Mudlor yang sempat menulis kritikan pedas terhadap RSSA karena ia mendapatkan pelayanan yang tidak nyaman. Dalam audiensi itu, kedua belah pihak saling mengutarakan penjelasan terkait problematikan yang muncul.
Eka mengatakan, saat itu dirinya merasa dipingpong karena upayanya mendapatkan pelayanan ditolak oleh pihak RSSA. Alasannya, karena petugas medis saat itu masih melayani para caleg.
"Saya berakhir di depan penanggungjawab, dr Happy, terakhir saya sampaikan, saya harus menghadap ke siapa? Ini kebijakkan yang tidak adil. Saya minta dilayani pemeriksaan psikotes. Saya tidak terlambat. Ternyata saya mendapat perlakuan yang tidak adil," keluh Eka, Kamis (5/7/2018).
Eka merasa saat itu dirinya tidak bisa mengadu ke siapapun. Hingga akhirnya ia putuskan menulis unek-uneknya di sosial media.
"Saya sebut saat itu deadlock. Saya tunggu sampai malam tidak ada respon. Akhirnya saya tulis di FB untuk direktur," jelas dia.
Eka merasa didiskriminasi karena menilai RSSA lebih memprioritaskan para caleg daripada dirinya.
Pihak RSSA melalui Dr Hanif Noersjahdu selaku Wakil Direktur Medik Keperawatan menjelaskan ada kesalah pahaman antara pimpinan dan bawahan di RSSA sehingga Eka mendapatkan pelayanan buruk. Mewakili RSSA, Hanif pun akhirnya meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.
"Kami sampaikan permohonan maaf atas ketidak nyamanan. Ada ketidak singkronan antara pimpinan dengan yang di bawah," jelasnya.
Sebetulnya, jika laporan itu sampai ke Hanif, maka Hanif akan segera menyelesaikan. Namun karena ia tidak menerima laporan dari bawahannya, ia pun tidak mengetahui titik persoalannya.