Malang Raya
Sekolah Lapang Iklim, Cara USAID Cerdaskan Petani Tebu di Bantur Kabupaten Malang
SLI tebu dimulai sejak Oktober 2017 dan merupakan sarana belajar petani untuk memperdalam pengetahuan tentang teknik budi daya
Penulis: Mohammad Erwin | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, BANTUR - USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK), Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dinas Pertanian, bersama dua puluh lima petani secara resmi menutup kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) tebu melalui panen raya yang digelar di Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Kamis (27/9/2018).
SLI tebu dimulai sejak Oktober 2017 dan merupakan sarana belajar petani untuk memperdalam pengetahuan tentang teknik budi daya serta penggunaan informasi cuaca dan iklim.
“Sektor pertanian sangatlah terdampak oleh perubahan iklim, tak terkecuali tanaman tebu. Supaya tumbuh dengan baik, maka tebu harus ditanam di waktu yang tepat. Agar dapat melakukan hal tersebut, maka petani harus melek iklim, dan karena itulah kami lakukan SLI tebu,” terang Anung Suprayitno, Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Klimatologi Malang.
Tebu merupakan komoditas pertanian unggulan di Jawa Timur. Sebagai lumbung tebu nasional, Jawa Timur berkontribusi sebanyak 1,25 juta ton dari total produksi nasional 2,33 juta ton.
Perkebunan tebu tersebar di berbagai wilayah di antaranya Jember, Kediri, Lamongan, dan Malang.
Di Kabupaten Malang, USAID APIK menggandeng petani tebu di Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur.
Dalam SLI tebu, petani belajar tentang cara pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma dan hama, mengamati lingkungan sekitar kebun, mengukur suhu udara, serta menganalisis kondisi tanah.
Selama 10 bulan, petani belajar bersama di tepi kebun dan langsung mempraktikkan apa yang mereka pelajari di petak percontohan
Selain itu, SLI juga mendorong petani untuk memproduksi benih tebu berkualitas. Para petani di Wonokerto mengaku mereka masih menggunakan bibit dari sumber yang ditanam 7 tahun lalu.
Padahal, menurut Pusat Penelitian Perkebunan Gula (P3GI) Pasuruan, penggunaan bibit melebihi 3 kali masa panen (3 tahun) dapat mengurangi produktivitas.
Petani kemudian menggunakan benih baru dari kultur jaringan P3GI. Dari hasil ubinan (perhitungan perkiraan panen) sampel yang dilakukan Kamis, 20 September 2018, demoplot SLI seluas 0,5 hektar mampu menghasilkan 60 ton tebu.
Dengan angka produksi rata-rata di Kabupaten Malang 90 ton per hektar2, maka hasil di demoplot amat menjanjikan.
Selain itu, uji rendemen sementara di P3GI menunjukkan tebu di demoplot SLI memiliki nilai 14,85, lebih tinggi dari angka rendemen kebun petani di sekitar lokasi demoplot yang memiliki skor 13,77.
Nilai ini berarti dalam 1 kuintal tebu di demoplot SLI akan menghasilkan 14,85 kg gula, sementara tebu hasil kebun petani sekitarakan menghasilkan 13,77 kg gula.
Mardianto, peserta SLI tebu sekaligus ketua Kelompok Tani Margo Makmur mengungkapkan pengalamannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/suasana-panen-raya-yang-digelar-di-desa-wonokerto-kecamatan-bantur-kabupaten-malang_20180927_133350.jpg)