Blitar

Peserta PKBM Tunas Pratama Blitar Dilatih Ketrampilan Kerajinan Jilbab Tulis

Selain mendapatkan pelajaran formal, peserta PKBM Tunas Pratama juga mendapat pelatihan berwirausaha

Peserta PKBM Tunas Pratama Blitar Dilatih Ketrampilan Kerajinan Jilbab Tulis
suryamalang.com/Samsul Hadi
Peserta PKBM Tunas Pratama, Kelurahan Sananwetan, Kota Blitar, sedang berlatih membuat kerajinan jilbab tulis. 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) selama ini identik dengan pendidikan Kejar Paket untuk penyetaraan. Padahal, masyarakat yang belajar di PKBM juga dilatih cara berwirausaha.

Seperti yang terlihat di PKBM Tunas Pratama Kelurahan Sananwetan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar ini. Selain mendapatkan pelajaran formal, peserta PKBM Tunas Pratama juga mendapat pelatihan berwirausaha. Mulai membuat kerajinan jilbab lukis, kuliner, taman baca, hingga pelatihan membuat konten YouTube.

"Membuat kerajinan jilbab lukis ini program baru untuk ibu-ibu peserta PKBM di tempat kami," kata Rangga Bisma Aditya, pengelola PKBM Tunas Pratama, Rabu (24/10/2018).

Para perempuan peserta PKBM Tunas Pratama dilatih membuat jilbab lukis. Karya jilbab lukis dipasarkan lewat Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim. Dalam sebulan, mereka bisa memproduksi sekitar 100 jilbab lukis.

"Kerajinan itu menjadi pekerjaan sampingan bagi ibu-ibu peserta PKBM. Harapannya mereka bisa berwirausaha sendiri setelah keluar dari PKBM," ujarnya.

Rangga mengatakan pelatihan kewirausahaan untuk peserta PKBM ini memang untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap PKBM. Selama ini, masyarakat menganggap PKBM hanya sebagai pelarian bagi masyarakat yang putus sekolah dan ingin mengikuti ujian kesetaraan.

Padahal, kegiatan di PKBM bukan hanya soal pendidikan Kejar Paket. Para peserta PKBM mendapat pendidikan tambahan berupa pelatihan di bidang lain. Malah di era digital ini, para peserta PKBM juga dikenalkan dengan dunia daring (online).

"Sebab, ke depan, sistem pembelajaran di PKBM juga secara online. Tahun lalu, ujian nasional peserta Kejar Paket juga menggunakan komputer," ujarnya.

Untuk mendekatkan PKBM dengan masyarakat, baru-baru ini, Rangga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Blitar menggelar Festival Inovasi Edukasi dan Kreativitas (Fiesta) Pendidikan Non Formal Kota Blitar. Festival itu menjadi ajang bagi peserta PKBM untuk memamerkan hasil kerajinannya.

Selain itu, dalam acara tersebut para peserta PKBM juga menampilkan berbagai kesenian. Dia berharap dengan adanya acara itu pandangan masyarakat terhadap PKBM berubah. Masyarakat tidak menganggap PKBM hanya sebagai pelarian untuk mendapatkan ijazah penyetaraan.

Tetapi, PKBM juga bisa menjadi pendidikan alternatif bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi kewirausahaan. "Di Kota Blitar ada enam PKBM, tapi sayang sosialisasi soal PKBM ke masyarakat belum maksimal," katanya.

Penulis: Samsul Hadi
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved