Kabar Jombang

Gus Sholah: Naikkan Harga Rokok Setinggi-tingginya agar Tak Terjangkau Anak-anak

"Kalau di sini (Pesantren Tebuireng) sudah jelas ya, sudah lama. Bukan hanya santri, guru juga tidak boleh merokok dan tidak ada yang merokok."

Editor: yuli
suryamalang.com
ANTIROKOK - Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) 

"Kalau di sini (Pesantren Tebuireng) sudah jelas ya, sudah lama. Bukan hanya santri, guru juga tidak boleh merokok dan tidak ada yang merokok di lingkungan pondok dan sekolah," ucap Gus Sholah.

SURYAMALANG.COM, JOMBANG - Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mendorong pemerintah lebih serius dalam pengendalian konsumsi rokok.

Menurut Gus Sholah, masyarakat yang bukan perokok, terutama perempuan dan anak-anak harus dihindarkan dari pengaruh adiksi rokok demi menjaga kualitas hidup mereka.

Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menyebutkan, dalam mengendalikan konsumsi rokok di kalangan anak-anak, perlu ditegaskan larangan merokok di tempat publik, khususnya di lingkungan pesantren maupun sekolah.

"Kami sangat setuju generasi muda di masa depan harus bebas dari pengaruh adiksi rokok sehingga kualitas hidupnya lebih baik," kata Gus Sholah dalam siaran tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (20/7/2019).

Selain itu, ia menilai pemerintah perlu memperluas kawasan tanpa rokok serta mempertimbangkan penentuan harga rokok yang tidak bisa dijangkau anak-anak.

"Kami juga berharap pemerintah dapat mempertimbangkan pengendalian konsumsi rokok, salah satunya dengan menaikkan harga rokok setinggi-tingginya agar tidak terjangkau anak-anak," kata dia. Untuk diketahui, terkait upaya pengendalian konsumsi rokok, digelar pertemuan para Kiai, santri dan para kader perempuan muda Nahdlatul Ulama (Fatayat NU) Jawa Timur, di Pesantren Tebuireng Jombang, Sabtu (20/7/2019).

E-liquid atau cairan rokok elektrik sudah ditarik cukai 57 persen sesuai Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. 
Tapi cukai rokok kuno hanya ditarik 40 persen.
E-liquid atau cairan rokok elektrik sudah ditarik cukai 57 persen sesuai Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Tapi cukai rokok kuno hanya ditarik 40 persen. (suryamalang.com)

Jika Harga Rokok Benar-Benar Naik, Wali Kota Kediri Akan Berhenti Merokok

PT Gudang Garam Buka Suara Terkait Wacana Kenaikan Harga Rokok, Begini Isinya . . .

Tidak ada Alasan Menahan Kenaikan Tarif Cukai Rokok, UU Mengatur Bisa sampai 57 Persen

Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah), bersama ketua PW Fatayat NU Jawa Timur, menandatangi naskah deklarasi dukungan terhadap upaya pengendalian konsumsi rokok, di Pesantren Tebuireng, Sabtu (20/7/2019).
Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah), bersama ketua PW Fatayat NU Jawa Timur, menandatangi naskah deklarasi dukungan terhadap upaya pengendalian konsumsi rokok, di Pesantren Tebuireng, Sabtu (20/7/2019). (MOH. SYAFIÍ)

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) bekerja sama dengan Komite Nasional Pengendalian Tembakau.

Pada penghujung pertemuan, pihak Pesantren Tebuireng bersama Fatayat NU Jawa Timur, mendeklarasikan dukungan terhadap setiap upaya pengendalian konsumsi rokok.

Deklarasi yang berisi beberapa poin seruan pembatasan dan pengendalian konsumsi rokok itu ditandangani Gus Sholah selaku Pengasuh Pesantren Tebuireng serta Ketua Fatayat NU Jawa Timur, Dewi Winarti.

Adapun poin-poin yang disampaikan dalam deklarasi, antara lain dorongan agar pemerintah menaikkan harga rokok serta menetapkan larangan merokok di pesantren dan sekolah.

"Seruan tadi, ditujukan kepada pemerintah dan organisasi-organisasi (ormas), seperti Nahdlatul Ulama, menurut saya harus terjun ke situ (pengendalian konsumsi rokok)," ucap Gus Sholah kepada Kompas.com setelah pertemuan.

suryamalang.com | FB: Surya Arema | IG: @suryamalangcom
suryamalang.com | FB: Surya Arema | IG: @suryamalangcom (.)

Menurut dia, pengendalian konsumsi rokok perlu dilakukan karena perilaku merokok berdampak pada kesehatan, sosio-ekonomi, serta bisa berimplikasi pada kualitas hidup manusia.

"Karena (merokok) lebih banyak mendatangkan mudharat (kerugian) kepada masyarakat, daripada manfaatnya," kata Gus Sholah melanjutkan penjelasannya.

Selain itu, di Pesantren Tebuireng, berlaku aturan pelarangan merokok bagi santri, pengajar serta warga di kawasan Pesantren. Aturan itu juga berlaku untuk sekolah-sekolah di lingkungan Pesantren Tebuireng Jombang.

"Kalau di sini (Pesantren Tebuireng) sudah jelas ya, sudah lama. Bukan hanya santri, guru juga tidak boleh merokok dan tidak ada yang merokok di lingkungan pondok dan sekolah," ucap Gus Sholah.

Untuk pembatasan hingga pelarangan merokok di lingkungan Pesantren, Gus Sholah menyambut baik adanya gagasan kerja sama antar-pesantren. kompas.com

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved