Kabar Kediri
Tiga Kali Kota Kediri Raih Penghargaan TPID Terbaik Jawa-Bali, Kado Manis HUT Ke 1.140
Inflasi pada 2018 sebesar 1,97 persen ini menjadi salah satu alasan mengapa TPID Kota Kediri mempertahankan anugerah penghargaan terbaik Jawa-Bali.
Penulis: Didik Mashudi | Editor: Achmad Amru Muiz
SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri untuk ketiga kalinya meraih penghargaan terbaik kabupaten/kota se-Jawa Bali.
Penghargaan TPID terbaik 2018 diterima Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar dari Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi Tahun 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Kamis (25/7/2019).
Kabag Humas Pemkot Kediri, Drs Apip Permana dalam rilisnya menyebutkan, sebelumnya Kota Kediri meraih penghargaan TPID terbaik kabupaten/kota se-Jawa Bali tahun 2017 dan TPID terbaik kabupaten/kota se-Jawa Bali tahun 2016.
Penghargaan ini menjadi kado yang manis bagi Kota Kediri yang akan berulang tahun ke 1.140 pada 27 Juli mendatang. Inflasi pada 2018 sebesar 1,97 persen ini menjadi salah satu alasan mengapa TPID Kota Kediri mempertahankan anugerah ini.
Mengingat penilaian TPID kali ini 50 persen dinilai dari outcome. Sehingga angka inflasi yang lebih rendah dari angka inflasi Provinsi Jawa Timur (2,86 persen) dan inflasi nasional (3,13 persen) pada 2018 ini memberi sumbangsih besar pada penilaian.
Indikator lain dalam penilaian adalah proses dengan bobot 20 persen dan output dengan bobot 30 persen.
Saat membuka Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi 2019, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan, dalam pengendalian inflasi pemerintah daerah cukup mengacu pada indeks harga konsumen (IHK) yang menjadi dasar perhitungan inflasi.
Pengendalian juga harus dilihat dalam jangka waktu tertentu. "Kalau harga yang naik kopi, coklat atau karet biar saja. Karena itu bukan barang konsumsi," ujarnya.
Jusuf Kalla menuturkan, pemerintah daerah sering melakukan sweeping ke pedagang dan produsen jika harga naik. "Jadi jangan asal harga naik langsung bertindak, sweeping. Kalau IHK naik terus menerus secara kurun waktu tertentu itu inflasi. Sehingga baru dilakukan tindakan pengendaliannya," katanya.
Sementara usai menerima penghargaan, Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar mengatakan, TPID Kota Kediri mengendalikan inflasi dengan inovasi.
Mengendalikannya dari hulu ke hilir agar perdagangan antar daerah terus berjalan. “Kita juga kerjasama dengan para pedagang, distributor, dan daerah-daerah lain. Misal seperti bawang merah kita kerja sama dengan Nganjuk,” ujarnya.
Walikota menjelaskan, inflasi harus dikendalikan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di Kota Kediri. Sehingga masyarakat di Kota Kediri bisa berinvestasi dengan baik dan daya beli meningkat. Selain itu, untuk mengurangi pengangguran harus mengendalikan inflasi.
“Kalau inflasi tinggi tentu ekonomi akan anjlok, dan pasti angka pengangguran dan kemiskinan akan tinggi. Salah satu yang paling tepat adalah menjaga inflasi supaya ekonomi bertumbuh baik. Harus kita pertahankan dan distimulasi terus,” jelasnya.
Ditambahkannya, kedepan akan terus berinovasi untuk mengendalikan inflasi. Banyak masyarakat yang tidak memahami dampak dari mengendalikan inflasi. “Kita akan cari model-model baru lagi. Inflasi ini kan bermacam-macam ada dari pendidikan juga. Tentu treatment mengendalikannya juga berbeda-beda,” pungkasnya.
Untuk mengendalikan inflasi, TPID Kota Kediri memiliki lima kunci sukses. Pertama , adanya komitmen yang kuat dari para pimpinan dan jajarannya.
Kedua , menjalankan strategi 4K dengan sungguh-sungguh. Ketiga, adanya analisis yang tajam dalam memitigasi potensi inflasi. Keempat, pemimpin selalu hadir ketika terjadi kesulitan masyarakat. Kelima, TPID yang solid.