Malang Raya

Sri Rahayu, Perempuan asal Jember yang Populerkan Daster Malangan Lewat Brand Marsalia Embroidery

"Kalau daster Jogja, Solo, Bali kan sudah ada batik. Kalau daster Malang berbeda," jelas wanita kelahiran Jember ini.

Sri Rahayu, Perempuan asal Jember yang Populerkan Daster Malangan Lewat Brand Marsalia Embroidery
Sylvianita Widyawati
Sri Rahayu, perempuan asal Jember yang mempopulerkan daster Malangan lewat brand Marsalia Embroidery. 

"Kalau sekarang, ide bordir banyak ditemui. Kadang juga pas jalan-jalan kemana ada ide," jelas pemilik brand Marsalia Embroidery ini. Ia mengaku model pengusaha konservatif.

"Belum modern. Semua saya tangani sendiri dibantu 30 karyawan," jelasnya.

Mulai ide, keuangan dll dikerjakan sendiri. Ditanya mengenai harga daster bordirnya, di kisaran Rp 175.000 sampai Rp 500.000/potong. Yang harga Rp 500.000 itu karena bahan dan bordirannya.

Daster katun banyak peminatnya selain adem di bahan juga awet kainnya. Jika dipadu bordir, maka terlihat cantik. Dalam perkembangan waktu, ia juga membangkan usahanya.

https://facebook.com/suryamalang.tribun | SURYAMALANG.COM | IG: @suryamalangcom
https://facebook.com/suryamalang.tribun | SURYAMALANG.COM | IG: @suryamalangcom (.)

Tak hanya ke daster tapi juga lainnya dengan basis bordir. Misalkan pembuatan mukena yang dijual Rp 1,4 juta karena bahannya bagus dan bordirnya. Ada juga sandal-sandal cantik dan tas kecil.

"Saya juga bikin hantaran buat pengantin," jelas wanita berhijab ini. Maka hantaran itu dikemas di kotak cantik. Ia menunjukkan beberapa hantaran si showroomnya yang tak terlalu besar. Sebagai pengusaha UMKM, ia juga dibina Pemkot Malang dan kerap diajak pameran.

"Banyak dibantu juga untuk pemasaran," akunya. Ia menyatakan, saat ada sertijab pejabat, biasanya juga banyak dapat pesanan. "Misalkan kenangan-kenangan buat anak buah," papar Sri Rahayu.

Harganya tergantung pilihan itemnya. Ada satu set isinya daster dan mukena, ada juga daster, handuk dan sandal dll. Sri Rahayu biasanya memiliki stok barang. Karena itu setiap hari selalu ada yang diproduksi. Biasanya ia mengecek apa yang sudah mau habis. Jika ready stock, maka pilihan pembeli juga banyak.

Untuk daster, biasanya ia produksi 1000 item per bulan. Tentang harga, katanya karena semua handmade memang berbeda dengan produk pabrikan.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved