Kabar Sidoarjo

Dua Pria asal Tuban Bikin Pabrik Minuman Keras di Sidoarjo, Omzetnya Rp 50 Juta per Bulan

PABRIK MIRAS - Dua Pria asal Tuban Bikin Pabrik Minuman Keras di Sidoarjo, Omzetnya Rp 50 Juta per Bulan

Dua Pria asal Tuban Bikin Pabrik Minuman Keras di Sidoarjo, Omzetnya Rp 50 Juta per Bulan
m taufik
Polresta Sidoarjo menunjukkan tersangka dan barang bukti pabrik miras (minuman keras) di Desa Sumorame Kecamatan Candi, Sidoarjo. Dua tersangka adalah Novi Setiawan (36), dan Puji Erdianto (28), warga Desa Tegalagung Kecamatan Semanding, Tuban. 

SURYAMALANG.COM, SIDOARJO - Terbongkarnya pabrik miras (minuman keras) di Desa Sumorame Kecamatan Candi, Sidoarjo ternyata berawal dari pengakuan sejumlah penjual miras di Kota Delta.

Berulang kali digelar razia miras di sejumlah wilayah, beberapa penjual mengaku kulakan dari orang yang sama. Polisi kemudian menelusuri tempat penjualan itu.

"Dari sana kemudian ditemukan rumah yang dipakai memproduksi minuman keras jenis arak tersebut," ungkap Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Zain Dwi Nugroho, Selasa (10/9/2019).

Setelah dipastikan bahwa tempat itu memang pabrik arak, polisi pun mengerebeknya. Dua tersangka dan sejumlah barang bukti diamankan petugas dari lokasi penggerebekan ini.

Dalam pemeriksaan, para tersangka mengaku sudah menjalankan bisnis haram ini sejak Februari 2019 lalu. Sejak saat itu mereka memproduksi arak di Sidoarjo dan mengedarkannya di Kawasan Sidoarjo dan sekitar.

Omzetnya cukup besar. Setiap bulan pemgelola pabrik miras ini rata-rata meraup sekitar Rp 50 juta. "Iya, sekitar itu (omzetnya)," jawab tersangka di sela menjalani pemeriksaan di Polresta Sidoarjo.

Dua tersangka itu adalah Novi Setiawan (36), dan Puji Erdianto (28), warga Desa Tegalagung Kecamatan Semanding, Tuban. Mereka sengaja memilih rumah yang jauh dari penduduk untuk memproduksi arak.

Ilmu dan cara memproduksi arak didapat mereka dari daerah asal. Diketahui, keduanya memang dari daerah yang merupakan basis peredaran Arak di Tuban.

Kepada polisi, para tersangka menceritakan bahwa untuk memproduksi arak itu, bahan baku awal adalah gula pasir yang dicampur ragi, kemudian dicampur air.

Semua dimasukkan dalam drum, diaduk, lalu didiamkan selama dua minggu dalam keadaan drum tertutup agar campuran gula pasir, ragi dan air tersebut berfermentasi. Setelah dua minggu, campuran bahan baku tersebut dimasak menggunakan tungku selama sekitar emoat jam atau sampai menguap.

Uap dari proses pemasakan itu lantas dialirkan ke dalam bak air dingin agar uap tersebut mencair menjadi arak. Tapi kondisinya masih berupa arak kotor sehingga perlu ditampung di sebuah drum untuk disaring.

Setelah disaring menjadi bening, kemudian dimasukan ke dalam botol ukuran 1,5 liter untuk diedarkan. Botolnya hanya oplosan, tanpa merek apapun.

Penulis: M Taufik
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved