Institut Teknologi Nasional Malang
Mahasiswa Tunarungu dari ITN Malang Rancang Sistem Pengambilan Akta Cerai Berbasis Website
Mahasiswa tunarungu dari program studi Teknik Informatika itu menyusun skripsi tentang sistem pengambilan akta cerai.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: yuli
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Muhamad Igthtana Hakim Ilmi menjadi salah satu wisudawan terbaik Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.
Mahasiswa tunarungu dari program studi Teknik Informatika itu menyusun skripsi tentang sistem pengambilan akta cerai.
Di pengadilan agama ada SIPP (Sistem Informasi Penelusuran Perkara) yang diprogramkan Mahkamah Agung.
Namun ada kekurangannya pada sistem pengambilan akta cerai. Di sistem lama, sering terjadi, akta cerai diambil oleh bukan pihak bersangkutan seperti memalsukan dokumen. Sehingga kerap terjadi perselisihan. Karena itu PA Lumajang membutuhkan sistem informasi pendukung SIPP agar bisa memberikan bukti siapa yang telah mengambil akta cerai.
Sistem ini berbasis web sehingga mendukung pelayanan terpadu satu pintu. "Kalau untuk data di PA tidak ada masalah. Saya juga PKL di PA Lumajang. Yang butuh lama prosesnya adalah membangun sistemnya. Saya juga sempat kesulitan," aku Ightana kepada Suryamalang.com, Jumat (27/9/2019).
Putra pasangan Drs Toif MH, hakim PA Lumajang dan Sukrishna Arti Yani, guru di SMPN 3 Tugu Kabupaten Trenggalek ini menyelesaikan kuliah selama empat tahun. Untuk kuliah, ia juga memakai alat bantu pendengaran. Sekarang juga ditambah aplikasi Transkripsi Instan dari HP nya. Sehingga ia bisa menjawab pertanyaan dengan menulisnya di aplikasi itu.
"Jika saya tidak mengerti, saya juga tanya langsung ke dosen," jawab anak pertama dari dua bersaudara ini. Ia merasa selama kuliah di ITN, teman-temannya juga membantunya. Meski di awal masuk, ia merasa minder dan bingung. Ayahnya yang mendukung kuliahnya juga memberitahu kondisinya pada pihak kampus.
Awalnya ia ingin masuk Teknik Arsitektur. Tapi kemudian diarahkan ke Teknik Informatika karena kondisinya. Setelah lulus kuliah, ia memang ada keinginan untuk menjadi ASN. Namun usaha yang linier dengan ilmunya. Agar para tuna rungu juga mendapat penghasilan.
Wisudawan lainnya yaitu Titis Intan Permatasari dengan IPK 3,54. Ia dari Teknik Industri S1, Fakultas Teknik Industri. Skripsinya tentang "Analisa Peningkatan Kualitas Pelayanan Menggunakan Metode SWOT dan Service Quality di PDAM. Kemudian Lathifatul Ilya (Ulya), Teknik Kimia S1 Fakultas Teknik Industri dengan IPK 3,83.
Penelitian tugas akhirnya adalah pembuatan mixed vegetables jelly serbuk yang tinggi kandungan vitamin C dengan variasi komposisi sayur dan suhu pengeringan. Sedang Ayu Lutfi Novitasari dari Teknik Informatika S1 dengan IPK 3,81 mengerjakan skripsinya berupa aplikasi pengenalan senjata tradisional Indonesia menggunakan augmented reality berbasis android.
Kemudiam Johan Dwi Purnomo dengan IPK 3,30 dengan masa studi tiga tahun di Teknik Industri D3. Ia melakukan perancangan alat mencetak mie otomatis. "Ide menggarap ini karena di Malang banyak kuliner mie," jawab Johan. Dikatakan, mesin pencetak mie sudah ada tapi harganya kurang terjangkau bagi UKM. Harganya alat ini andai dijual sekitar Rp 5 jutaan.
Jika yang ada di pasaran sekitar Rp 10 juta. Alat pencetak mie ini akan mempermudah produsen mie kelas bawah meningkatkan produksinya. Roll pencetak bisa dibongkar pasang agar memudahkan pembersihan. Sementara Maulidya Atha Nur Pinasti meraih IPK 3,70. Ia dari Prodi Teknik Arsitektur. Ia mengerjakan skripsi tentang Hotel Resort di Kabupaten Malang untuk tema arsitektur ekologi.
Ia mengambil ide untuk kawasan Pantai Sendangbiru. Di seberang pantai ada cagar alam Sempu. Hotel resort berfungsi sebagai zona penyangga. Sedang Reynhard Bayu Prananda Ghunu dari prodi Teknik Sipil S1 mengerjakan skripsi tentang studi perencanaan struktur atas dan bawah gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (UM).