Rabu, 29 April 2026

Malang Raya

Pengendapan di Waduk Selorejo Malang Dikeluhkan, Pengemudi Kapal Wisata Kesulitan

Pendangkalan yang terjadi mengakibatkan kapal tidak bisa leluasa bergerak sehingga wisatawan enggan naik

Penulis: Benni Indo | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Kondisi Waduk Selorejo di Ngantang, Kabupaten Malang yang terlihat permukaan tanahnya pada Januari 2020. Sebelumnya, air menggenani daerah yang kini terlihat hijau tersebut. 

SURYAMALANG.COM, MALANG – Pengemudi kapal wisata di Waduk Selorejo mengeluhkan pendangkalan yang terjadi di Waduk Selorejo.

Pasalnya, pendangkalan yang terjadi mengakibatkan kapal tidak bisa leluasa bergerak sehingga wisatawan enggan naik.

Purnomo, seorang pengemudi kapal wisata menerangkan, pendangkalan terjadi sejak musim kemarau tiba.

Istri dan Dua Anaknya Tewas dalam Kecelakaan Maut di Pasuruan, Suami Pengemudi Mobil Terus Menangis

Aremania Tebar Harapan Untuk Jajaran Pelatih Baru Arema FC, Ini Permintaannya

Kronologi Mario Gomez Jadi Pelatih Baru Arema FC, Dari Isu Awal Hingga Reaksi Borneo FC

Dalam 2019 ini, ia hanya beroparasi selama tujuh bulan saja. Hal itu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang bisa beroperasi selama 11 bulan.

“Hanya 11 bulan karena saat Ramadan libur. Tapi sekarang hanya tujuh bulan saja. Kalau kondisinya terus begini, tahun depan bisa enam bulan saja,” kata Purnomo, Kamis (2/1/2020).

Saat ditemui di lokasi, kondisi air di Waduk Selorejo menurut Purnomo sudah mulai membaik saat musim penghujan ini. Ia pun berharap, air yang masuk bisa sangat banyak dan bisa mengurangi pendangkalan yang terjadi.

“Bulan kemarin surut tapi  sekarang sudah lumayan dan pengunjung sudah mau naik lagi. Hanya itu kendalanya masih sempit,” jelasnya.

Diterangkan Purnomo, tiga bulan terakir waduk mengalami kekeringan parah.

Purnomo pun berhenti menjadi pengemudi kapal wisata. Ia memilih bekerja sebagai petani dan peternak.

Sejauh pengetahuan Purnomo, endapan yang terjadi saat ini akibat dari material yang masuk ke dalam waduk.

Material itu masuk saat musim hujan tahun lalu. Timbunan material kata Purnomo berasal dari Pujon.

Material berupa lumpur dan limbah peternakan.

“Jadi gelontoran dari Pujon itu masuk semua. Kami sering sampaikan kondisi ini kepada pengelola. Sudah diusahakan dikeduk tapi ya begitu saja. Permintaan kami yang dikeduk di bagian sini juga,” katanya.

Pengamatan Purnomo, kedalaman waduk saat kondisi normal sedalam 20 meter hingga 25 meter.

Namun saat terjadi pendangkalan, kedalaman hanya 7 meter sampai 10 meter.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved