Virus Corona di Jember

Potret Keluarga Miskin Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah, Sampai Jual Gelas & Mangkok Buat Beli Beras

Perempuan itu tidak lagi bisa bekerja karena terserang stroke setahun terakhir. Sebelumnya dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Triyata menunjukkan biji kluwih yang dipakai untuk sarapan demi menghemat beras . Masih ada warga miskin yang tak tersentuh bantuan sosial di saat krisis ekonomi wabah virus corona 

Triyata masih bisa berjalan meskipun pelan, dengan cara berbicara yang tersendat karena serangan stroke tersebut.

Di sisi lain, dia harus melunasi utangnya kepada sejumlah 'bank tithil' atau koperasi simpan pinjam yang menerapkan pembayaran setiap minggu.

Triyata mengaku terpaksa meminjam utang di 'bank tithil' itu karena untuk kebutuhan hidup, membiayai biaya kontrol mata sang anak, juga melunasi cicilan kredit milik anaknya di sebuah bank.

Beberapa bulan terakhir hidupnya semakin susah. Karenanya, dia tidak membayar iuran BPJS Kesehatan mandirinya.

"Tidak punya uang. Untuk makan saja susah. Tidak pernah dapat bantuan. KIS tidak ada. Dulu pernah didata di kelurahan, tetapi tidak dapat apa-apa sampai sekarang," lanjutnya.

Sebelumnya, Triyata memilih menjadi peserta BPJS Kesehatan secara mandiri.

Dia menuturkan, tiga tahun silam dia pernah mendapatkan jatah beras miskin. Dia mengaku mendapatkan tiga kali, masing-masing 2,5 Kg setiap kali dapat selama tiga kali tersebut. Setelahnya, dia tidak pernah mendapatkan bantuan sosial apapun dari pemerintah.

"Mendapatkan BPNT, PKH, dan KIS?," tanya Surya. "Tidak punya. Tidak pernah dikasih," katanya.

Belakangan ini,  dua pekan terakhir dia harus menyambung hidup dengan menjual barang miliknya.

Dia menjual mangkok dan gelas beberapa hari lalu kepada tetangganya.

Barang itu laku Rp 30.000 yang kemudian dia belikan beras. Dia juga menjual perabotan yang lain, meskipun nilainya tidak seberapa.

Triyata tidak peduli. Dia hanya berpikiran untuk bisa mendapatkan uang, dan bisa makan.

Bahkan beberapa hari terakhir, untuk sarapan, dia memasak biji kluwih yang oleh warga setempat disebutnya kolor.

Biji kluwih itu digodok, dan sebagai pengganti sarapan. Barulah siang harinya, keluarga itu makan nasi. Terkadang mereka dikasih makan, juga lauk dari tetangga.

"Dua hari sarapan isi kolor. Alhamdulillah, ini dikasih beras. Tadi juga ada orang tua yang tidak saya kenal, ngasih saya uang Rp 20.000. Bisa beli isi ulang gas," ujarnya sambil meneteskan air mata.

Halaman
123
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved