Virus Corona di Jatim

Selama Pandemi Covid-19, Masyarakat Boros Gas Elpiji dan Listrik, Konsumsi BBM Turun

Gas elpiji PSO (Public Service Obligation) atau elpiji subsidi mengalami kenaikan hingga 5-8 persen.

SURYAMALANG.COM/Habibur Rohman
ILUSTRASI -Aktivitas pengisian gas elpiji 3kg di Integrated Terminal Surabaya Pertamina Mor V Jl Nilam Surabaya, Rabu (22/1/2020). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Selama pandemi Virus Corona (Covid-19) konsumsi masyarakat Jawa Timur terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) turun. Sementara untuk konsumsi elpiji subsidi dan listrik rumah tangga meningkat.

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur, Setiajit menyebut untuk konsumsi BBM jenis solar dan premium turun hingga 15-20 persen dari kondisi normal.

Dari data yang dirilis Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V, Setiajit menjelaskan untuk BBM jenis Gasoline yang terdiri dari Premium, Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo, pada kondisi normal pada bulan Januari dan Februari lalu konsumsi masyarakat mencapai 12.900 kilo liter per hari.

"Sedangkan pada bulan April kemarin turun menjadi 9.500 kilo liter per hari," ujar Setiajit, Selasa (26/5/2020).

Lalu untuk BBM jenis Gasoil, yakni Bio Solar, Dex, Dexlite tercatat konsumsi pada kondisi normal awal tahun adalah 6.000 kilo liter per hari. Pada bulan April turun menjadi 4.500 kilo liter per hari.

Sedangkan untuk elpiji terjadi fenomena berbeda, dimana elpiji PSO (Public Service Obligation) atau elpiji subsidi mengalami kenaikan hingga 5-8 persen.

"Konsumsi normal elpiji 3 kilogram normalnya pada Januari-Februari 2020, sebanyak 3.900 metrik ton (MT) per harinya, lalu pada bulan April naik 5-8 persen" lanjutnya.

Sedangkan konsumsi elpiji yang NPSO atau non subsidi yaitu elpiji 6 kilogram, 12 kilogram, dan 50 kilogram turun seiring menurunnya aktivitas di berbagai sektor ekonomi dan bisnis.

Lebih lanjut untuk konsumsi listrik selama Pandemi Covid-19 mengalami kenaikan terutama penggunaan listrik rumah tangga yang naik 5 persen.

Hal ini berbanding terbalik dengan konsumsi listrik untuk bisnis yang justru turun 5 persen.

Perbedaan itu, menurut Setiajit, sejalan dengan pelaksanaan program aktivitas dari rumah yang tengah digaungkan pemerintah untuk menghentikan penyebaran virus SARS CoV-2.

"Agaknya memang pas kenaikan dan penurunan konsumsi energi dengan kebijakan stay at home," tandasnya.

( Sofyan Arif Candra)

Editor: Dyan Rekohadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved