Virus Corona di Malang

Pengukuhan 3 Profesor Baru Universitas Brawijaya di Tengah Pandemi Covid-19, Batasi Undangan

Pengukuhannya besok, Rabu (24/6/2020) juga akan dilangsungkan secara daring lewat streaming youtube channel UBTV

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Tiga profesor baru Universitas Brawijaya akan dikukuhkan Rabu (24/6/2020) secara daring. Mereka Prof Ir Arifin Noor Sugiharto MSc PhD di bidang ilmu bioteknologi pertanian. Kemudian Prof Dian Handayani SMK MKes PhD di bidang ilmu gizi dan Prof Dr Mohamad Khusaini SE MSi MA di bidang ilmu keuangan daerah 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Universitas Brawijaya (UB) menambah tiga profesor baru yang pengukuhannya dijadwalkan secara daring Rabu (24/6/2020) .

Mereka adalah Prof Ir Arifin Noor Sugiharto MSc PhD di bidang ilmu bioteknologi pertanian. Kemudian Prof Dian Handayani SMK MKes PhD di bidang ilmu gizi dan Prof Dr Mohamad Khusaini SE MSi MA di bidang ilmu keuangan daerah.

Proses pengukuhan akan digelar secara terbatas, tidak banyak undangan di acara pengukuhan karena dalam kondisi pandemi Covid-19.

"Pengukuhannya besok, Rabu (24/6/2020) secara daring lewat streaming youtube channel UBTV," jelas Kotok Gurito, Kasubag Humas dan Kearsipan UB pada suryamalang.com, Selasa (23/6/2020).

Ia menyebut Undangan paling banyak sekitar 30 orang.

Jumlah undangan itu sudah termasuk rektor, ketua senat, dekan fakultas dan ketua senat asal tiga profesor itu serta anggota keluarga.

Dalam kondisi normal, biasanya pengukuhan di dalam gedung Widyaloka dipenuhi undangan.

Dian adalah profesor pertama di Prodi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran (FK) UB dan menjadi profesor ke 11 di FK.

Dalam pidatonya, ia menyoroti problem kesehatan yaitu obesitas yang banyak di Indonesia.

"Saya memang fokus pada obesitas. Di Indonesia jumlahnya tidak pernah turun," kata Dian Handayani pada wartawan di ruang senat UB, Selasa (23/6/2020).

Dikatakan, jika obesitas dibiarkan, maka akan mempengaruhi biaya kesehatan. "Bahkan bisa tidak bekerja," katanya.

Sehingga perlu intervensi lewat makanan dari sisi aspek gizi. Sebab makanan fungsional lebih dipilih daripada obat-obatan.

Selain itu juga perlu diintervensi lewat edukasi. Maka dalam pengabdian pada masyarakat, ia membuat aplikasi berbasis android yang mudah digunakan, agar tahu kandungan energinya. Sehingga makanpun tidak berlebihan.

Sedang Mohamad Khusaini menyatakan implementasi desentralisasi dilaksanakan pada 2002.

Daerah-daerah banyak yang menjadi kaya. Daerah bisa mengelola uangnya sendiri yang sebelumnya disebut keuangan negara di pusat.

"Adanya desentralisasi membuat pemerintah jadi lebih dekat dengan masyarakat. Sebab barang dan jasa yang diadakan Pemda sesuai kebutuhan masyarakatnya," kata Khusaini.

Adanya desentralisasi juga membuat masyarakat bisa membandingkan. Misalkan dari pajak-pajak daerah, seberapa hasilnya buat masyarakat.

Dalam desentralisasi juga ada ketimpangan fiskal. Sebab tiap daerah kondisinya beda.

Ada daerah kaya dan miskin. Karena itu pemerintah memberikan dana perimbangan. Tujuannya pada jangka panjang akan mengarah pada titik yang sama (maju).

Namun desentralisasi fiskal juga ada masalah baru. Yaitu timbul ego sentral.

Misalkan Jakarta banjir menyalahkan daerah lainnya. Ini juga diharapkan tidak terjadi di Malang Raya atau daerah-daerah yang saling terkoneksi seperti Gerbangkertasusila atau di di Malang Raya.

"Di Malang Raya harusnya dalam kebijakan pembangunan, merancang dengan konsep Malang Raya. Konsepnya berbasis kewilayahan," tegasnya.

Hal ini termasuk manajemen fiskalnya. Otoda tidak bisa seenaknya sendiri dan perlu campur tangan pemerintah di atasnya.

Sedang Arifin menyampaikan bahwa Indonesia adalah produsen jagung ke 10 di dunia dan tertinggi di Asean.

Jagung selain untuk pakan dan pangan meski masih subsitusi.

"Sebab masih terbiasa dengan padi," kata profesor dari Fakultas Pertanian ini.

Dalam kondisi perubahan cuaca global, bertanam padi sebenarnya tidak cocok karena boros air.

Padahal saat ini butuh efisiensi. Berbeda dengan jagung meski nutrisinya lebih bagus dibanding padi.

Maka agar tidak sekedar menjadi makanan substitusi pangan, syaratnya di rasa jagung. Yaitu bagaimana membuat rasa jagung punel seperti nasi.

Ia bersama peneliti jagung yang tergabung di Maize Research Center UB konsisten mengkaji dan mempelajari bioteknologi dalam upaya perakitan varietas jagung unggul yang futuristik.

Beberapa hasilnya sebanyak 13 varietas telah dipatenkan. Dan empat telah dikomersialkan.

"Bagi saya, jadi profesor itu bukan final destination. Tapi sarana bagi saya untuk makin mengembangkan diri," kata Arifin.

Ia ingin Indonesia memiliki kemandirian benih dan pangan.

Sebab benih jagung masih banyak yang import yaitu Rp 4 triliun per tahun. Sehingga memberikan devisa bagi negara lain

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved