Berita Pasuruan Hari Ini

Peternak Sapi Milenial dari Pasuruan, Keruk Rezeki dari Limbah Kulit Ari Kedelai untuk Pakan Ternak

Ferry Setyawan, salah satu peternak sapi milenial yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan, dikenal sebagai salah satu peternak sapi yang sukses.

Penulis: Galih Lintartika | Editor: isy
galih lintartika/suryamalang.com
Ferry Setyawan, peternak sapi milenial yang sukses memanfaatkan limbah kulit ari kedelai untuk campuran pakan ternak sapi, dan membuat sapi peliharaannya lebih cepat subur dan segar. 

Limbah ini diperoleh setelah melalui proses perebusan dan perendaman kacang kedelai.

Sapi–sapi milik Ferry sudah biasa menerima pakan ternak tambahan ini.

Kepada Surya, Ferry meyakini, comboran ini mengandung protein yang sangat tinggi.

Ia sempat mendapatkan informasi jika, kulit ari kedelai mengandung protein kasar kurang lebih 17,98 persen, lemak kasar 5,5 persen, serat kasar 24,84 persen, dan energi metabolis 2898 kkal/kg.

Kata dia, limbah kulit ari kedelai ini mampu mempercepat pertumbuhan sapi.

“Kalau berdasarkan pengalaman saya, untuk perawatan sapi dengan pakan ternak jerami, minimal delapan bulan baru bisa dijual karena sapinya sudah layak jual dengan standar berat badan yang sudah ditentukan. Kalau ditambah dengan kulit ari kedelai, enam bulan bisa dijual, bahkan, saya pernah empat bulan sudah besar,” kata Ferry.

Bapak satu anak ini mengaku pernah memiliki sapi dengan berat 1 ton lebih dan itu rekor sapi peliharaannya yang paling besar.

Rahasianya, ternyata memanfaatkan limbah kulit ari kedelai ini sebagai campuran pakan ternak sapi.

Ia sudah menggunakan cara ini sejak lama,namun baru fokus dan menekuninya sepulang dari Jepang.

“Saya pernah magang di Jepang tahun 2016, ya di peternakan sapi. Jadi itu program Kementrian. Disana, saya banyak belajar, termasuk soal pakan ternak sapi. Disana, justru pakan ternaknya bukan limbah kulit ari kedelai dari proses pembuatan tempe, tapi justru murni kedelai. Di sana, justru makanan sapi murni kedelai, jenisnya edamame,” jelas dia.

Sepulang dari Jepang, kata dia, tahun 2017, ia mulai serius membuka peternakan sapi.

Sebelumnya, ia hanya merawat sapi, bersama orang tuanya. Ia sudah merawat sapi sejak kelas 3 SMP.

Di tahun 2017 itulah, ia nekat membuat kandang sapi dan membeli sapi.

Ia hanya modal nekat.

Sebab, semua modal finansial membangun peternakan sapi, ia dapatkan dari hasil pinjaman.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved