Berita Batu Hari Ini
Petani Kota Batu Berharap Dampak Positif Kehadiran Sawah Rojo
Kehadiran Sawah Rojo Art Farming diharapkan petani bisa memberikan dampak positif.
Penulis: Benni Indo | Editor: Zainuddin
Pemerintah, mulai tingkat daerah hingga nasional tengah berupaya mengembangkan pertahanan pangan.
Prapto kembali mengingatkan, bahwa Kota Batu lahir dari pertanian. Maka dari itu, pemerintah jangan sampai lupa terhadap jasa-jasa para petani.
Gara-gara pertanian, PAD Kota Batu tinggi dan bisa menjadi kota sendiri, terpisah dari Kabupaten Malang.
"Batu ini PAD tinggi karena dari pertanian, makannya diusulkan jadi kota. Awalnya bukan pariwisata, harapan kami, petani bisa optimal merasakan peluang wisata pertanian," harapnya.
Prapto pun ingin lebih banyak lagi wisatawan datang ke lahan-lahan pertanian. Dengan hadirnya Sawah Rojo Art Farming, harapan-harapan tersebut bisa terwujud.
"Sawah Rojo ini berada di halaman belakang Balaikota Among Tani. Biasanya, halaman belakang rumah dalam tradisi Jawa itu tempatnya bercocok tanam."
"Harapan kami juga seperti itu, belakang rumah Balaikota Among Tani ini menyiapkan bahan kebutuhan hidup," paparnya.
Dengan adanya Sawah Rojo Art Farming ini, ini petani tidak akan lagi menjual lahannya untuk dijadikan perumahan.
Banyak petani yang mengaku bahwa untuk mengerjakan lahan seluas 1.000 meter persegi dengan cara konvensional, hasilnya sangatlah tidak mencukupi, namun melalui program Sawah Rojo Art Farming , penghasilan petani bisa tumbuh signifikan.
Sawah Rojo Art Farming sebagai manajemen profesional tengah melibatkan generasi millenial desa sebagai petani muda yang siap meneruskan perjuangan nenek moyangnya dalam menjaga ketahanan pangan, tentunya dengan model pertanian kekinian.
Ifan Desprantika, seorang pemuda asal Kota Batu membuat alat penyiraman otomatis. Alat tersebut dapat mengukur kelembaban tanah, termasuk melakukan penyemprotan.
Semuanya difungsikan dari ponsel pintar yang telah diinstal aplikasi.
Saat mendemonstrasikan operasional alat di depan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, Ifan menceritakan latar belakang hadirnya alat tersebut.
Katanya, ia melihat masih banyak petani konvensional yang menyiram ladangnya.
"Dengan alat ini, bisa kita kontrol dan bahkan memprediksi waktu panen,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/wali-kota-batu-dewanti-rumpoko-dan-pengurus-sawah-rojo-art-farming-dan-para-petani-milenial.jpg)