Jendela Dunia

Kapal 'Mogok' yang Bikin Macet Terusan Suez Bisa Dipindahkan ke Selat Sunda, Lelucon untuk Hiburan

Kapal 'Mogok' yang Bikin Macet Terusan Suez Bisa Dipindahkan ke Selat Sunda, Lelucon untuk Hiburan

Editor: eko darmoko
MAXAR TECHNOLOGIES via AP
Foto satelit dari Maxar Technologies memperlihatkan kapal kargo MV Ever Given masih terjebak diagonal di Terusan Suez, dekat Suez, Mesir, pada Jumat (26/3/2021). Akibat Terusan Suez macet, lebih dari 200 kapal antre masuk dan beberapa di antaranya mulai berputar mengubah rute. 

Artinya, seluruh konten yang dibuat dari situs web tersebut hanya untuk asupan hiburan semata.

Hingga saat ini, Senin (29/3/2021) kapal MV Ever Given sendiri masih belum bisa dievakuasi dan proses tersebut diprediksi bakal rampung dalam hitungan minggu.

Sebagai dampaknya, sekitar 300-an kapal tertunda perjalanannya lantaran jalur Terusan Suez masih dihadang oleh kapal raksasa tersebut, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Forbes, Senin (29/3/2021).

Segala kegiatan operasional kanal yang berusia sekitar 140 tahun itu juga dihentikan untuk sementara waktu.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Kapal yang Blokir Terusan Suez Bisa Dipindah ke Selat Sunda, Begini Caranya

Terusan Suez
Terusan Suez (Britannica)

Sejarah Terusan Suez 'Jalan Pintas' yang Menghubungkan Eropa dan Asia Sepanjang 193 Kilometer

Keberadaan Terusan Suez mampu mengubah jalur pelayaran dunia, khususnya dari Eropa ke Asia.

Berkat Terusan Suez, kapal-kapal dari Eropa tidak perlu mengelilingi barat Afrika untuk bisa sampai ke Asia.

Namun, di balik megahnya Terusan Suez, ada perjalanan panjang terkait pembangunannya, berikut SURYAMALANG.COM kutip dari Kompas.com.

Sejarah Terusan Suez berada di negara Mesir bermula saat pembangunannya digagas oleh penjelajah dan insinyur Perancis, Linant de Bellefonds, sekitar 1830-an.

Dia melakukan survei di Isthmuz of Suez dan menemukan bahwa Laut Tengah dan Laut Merah memiliki ketinggian yang sama.

Isthmuz of Suez adalah sebidang tanah di antara Laut Mediterania dan Laut Merah, yang menjadi batas benua Afrika dan Asia.

Sebelum penelitian de Bellefonds, orang-orang meyakini kedua laut itu ketinggiannya berbeda.

Kemudian pada akhir abad ke-18 Masehi, Napoleon Bonaparte yang berhasil menguasai Mesir mengkaji sisa-sisa kanal bekas peradaban Mesir Kuno.

Berlanjut tahun 1854, Ferdinand de Lesseps asal Perancis menjalin kesepakatan dengan gubernur di Mesir, Ismail Pasha, untuk membangun sebuah terusan yang bisa menembus Laut Tengah menuju Laut Merah.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved