Breaking News:

Tekno

Menyambut Ramadan, Facebook Sekeluarga Siapkan Kejutan Khusus, Ada Stiker dan Filter Spesial

Menyambut Ramadan, Facebook Sekeluarga Siapkan Kejutan Khusus, Ada Stiker dan Filter Spesial

Editor: eko darmoko
BBC
Ilustrasi Facebook 

Hal itu dilakukan setelah pemerintah Australia akhirnya setuju untuk merivisi UU News Media Bergaining Code Law.

Adapun poin perubahan dalam aturan tersebut adalah pemerintah harus mempertimbangkan kesepakatan komersial antara platform digital dengan organisasi berita lokal sebelum mengeluarkan peraturan lebih lanjut.

Perusahaan teknologi juga harus diberi pemberitahuan sebulan sebelum aturan berlaku.

Poin lain juga menyebut bahwa perusahaan teknologi diberikan waktu dua bulan tambahan untuk membuat kesepakatan komersil dengan organisasi berita.

Selain itu, revisi tersebut juga mengharuskan pemerintah untuk mempertimbangkan apakah platform digital yang telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap industri berita Australia, juga harus membayar komisi atau tidak.

Poin ini sejatinya menimbulkan perdebatan antar politisi dan perusahaan media.

Sebab, ada kekhawatiran Facebook dan Google akan dikecualikan dari UU ini tanpa harus membayar komisi ke perusahaan media.

Dikhawatirkan, hal tersebut akan merugikan penerbit kecil dan hanya akan menguntungkan perusahaan media besar.

Dihimpun dari Reuters, bendahara Australia, Josh Frydenberg memastikan bahwa pihaknya akan memberikan waktu pada Facebook dan Google untuk mencapai kesepakatan dengan perusahaan media Australia lebih dulu sebelum memutuskan untuk penegakan aturan baru.

Poin revisi selengkapnya bisa dilihat di tautan berikut.

Selain Facebook, Google juga berinvestasi Rp 14 triliun untuk industri media selama tiga tahun ke depan.

Bulan Oktober lalu, Google mengumumkan akan membayar perusahaan media untuk membuat dan mengkruasi konten untuk Google News Showcase.

Program ini mulai digulirkan di Brazil dan Jerman dan meluas ke beberapa negara lain setelahnya.

"Model bisnis koran -yang pendapatannya didasarkan pada iklan dan langganan- telah berkembang selama lebih dari satu abad, di mana pembaca telah beralih ke sumber lain," kata CEO Google dan Alphabet, Sundar Pichai, dirangkum KompasTekno dari CNBC, Kamis (25/2/2021).

Pichai mengatakan, internet adalah perubahan terbaru dan tidak akan menjadi yang terakhir.

"Kami ingin memainkan peran kami untuk membantu jurnalisme di abd ke-21," imbuh Pichai.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Facebook Siapkan Rp 14 Triliun untuk Kerja Sama dengan Media

Mark Zuckerberg Bos Facebook Kehilangan Rp 102,6 Triliun

Facebook kini berada di ambang kerugian besar seiring dengan aksi boikot sejumlah perusahaan pengiklan.

Aksi boikot pasang iklan pada platform Facebook membuat saham raksasa media sosial tersebut anjlok.

Akhirnya, kekayaan CEO dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg pun terkikis.

Dilansir dari Business Insider, Minggu (28/6/2020), kekayaan Mark Zuckerberg raib 7,21 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau setara sekira Rp 102,6 triliun (kurs Rp 14.240 per dollar AS) pada Sabtu (27/6/2020) waktu setempat.

Adapun saham Facebook merosot lebih dari 8 persen pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2020) waktu setempat, sebagai dampak boikot iklan di media sosial itu.

Coca-Cola adalah pengiklan teranyar yang mendukung kampanye bertajuk #StopHateforProfit yang digencarkan oleh kelompok aktivis hak asasi manusia AS.

CEO Coca-Cola James Quincey menyatakan, pihaknya akan menghentikan seluruh iklan di media sosial selama 30 hari sambil memikirkan ulang kebijakan perusahaan.

"Tidak ada tempat untuk rasisme di dunia dan tidak ada tempat untuk rasisme di media sosial," tulis Quincey dalam laman resmi Coca-Cola.

"The Coca-Cola Company akan menghentikan iklan berbayar di seluruh media sosial secara global selama setidaknya 30 hari."

"Kami akan memanfaatkan waktu ini untuk mempelajari kembali kebijakan iklan kami guna mempertimbangkan apakah revisi dibutuhkan."

"Kami juga mengharapkan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dari mitra-mitra media sosial kami," imbuh Quincey.

Kampanye #StopHateforProfit diluncurkan pada 9 Juni 2020 pasca kematian George Floyd oleh petugas kepolisian Minneapolis, AS dan menimbulkan gelombang protes di seluruh dunia.

Adapun Facebook menolak untuk menghapus unggahan Presiden AS Donald Trump, yang mengancam bakal menerapkan tindakan kekerasan kepada para pengunjuk rasa.

Kampanye tersebut mendesak para pengiklan-pengiklan besar untuk memikirkan kembali belanja iklan mereka di Facebook sampai media sosial itu memiliki kebijakan yang lebih ketat.

Perusahaan besar seperti Unilever, Hershey Co, North Face, Verizon, dan lain-lain memutuskan untuk menunda atau membatalkan iklan mereka di Facebook dan platform-platform media sosial lainnya.

Iklan menyumbang hampir 100 persen pendapatan Facebook.

Adapun berdasarkan data Forbes, kekayaan Zuckerberg mencapai 79,7 miliar dollar AS atau setara sekira Rp 1.134 triliun. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved