Ramadan 2021

'Protokol Meja Makan' Puasa Era Pandemi

Sekarang sedang berlangsung bulan Ramadan, dan umat Islam menjalankan kewajiban berpuasa bagi yang mampu.

Editor: isy
istimewa/dok pribadi
Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim dan Guru Besar Kedokteran Unair Surabaya, Prof dr Djoko Santoso PhD. 

Setelah makan, glukosa digunakan untuk energi dan kelebihannya akan disimpan di hati sedang unsur lemak disimpan di jaringan lemak.

Tetapi selama puasa, begitu glukosa habis, maka timbunan lemak dipecah dan digunakan untuk energi meski dengan kecepatan metabolismenya melambat.

Orang yang berupaya menurunkan berat badan harus berjuang agar selama 16 jam bebas kalori.

Tetapi Mattson yang telah mempelajari dampak kesehatan dari puasa intermiten (berselang-seling) selama 25 tahun, manyarankan cara yang lebih mudah, yaitu dengan berhenti makan pada jam 7 malam, dilanjutkan dengan tidak sarapan esoknya, dan baru makan pada jam 11 menjelang siang.

Inilah yang disebut metoda diet 7:11, seperti ditulis di The New England Journal of Medicine.

Singkat kata, pola ini berbentuk makan dengan waktu terbatas setiap hari, dengan mempersempit waktu makan menjadi 8 jam per harinya.

Ada juga versi penelitian lainnya, yang menilai efek puasa intermiten pada manusia, berdasarkan dari riset pada hewan coba.

Misalnya, percobaan pada hewan yang mengalami stroke, yang diberi makan hanya sebentar sebentar ternyata kerusakan otaknya lebih ringan, karena lebih mampu menahan stres akibat kekurangan oksigen dan energi.

Ada juga beberapa penelitian lain dengan objek hewan, yang menunjukkan manfaat puasa intermiten pada berbagai gangguan kronis, termasuk sindrom metabolik (seperti: obesitas, gangguan lipid, pre-hipertensi), diabetes, penyakit kardiovaskular, kanker, dan suatu penyakit degeneratif.

Berbagai penelitian pada hewan dan manusia tentang puasa intermiten, menunjukkan peningkatan beberapa indikator kesehatan, dan memperlambat proses penuaan dan penyakit.

Penelitian puasa intermiten pada manusia, menunjukkan terjadinya perbaikan indikator penyakit seperti efek penurunan tekanan darah, kadar lemak darah, detak jantung istirahat, resistensi insulin, dan peradangan.

Pada pasien dengan multiple sclerosis atau penyakit kronis dalam sistem syaraf pusat, puasa intermiten bisa menurunkan berat badan secara aman bahkan dapat dikaitkan dengan peningkatan kesehatan emosionalnya hanya dalam dua bulan, seperti dilaporkan Kathryn dan tim penelitinya di Baltimore, 2018.

Saat kita berpuasa, tubuh menghasilkan sedikit protein baru, mendorong sel untuk mengambil protein dari sumber yang tidak penting, memecahnya dan menggunakan asam amino untuk membuat protein baru untuk kelangsungan hidup. Kemudian setelah berbuka makan, protein baru banyak diproduksi di otak dan di tempat lain.

Itulah salah satu dampak positif dari puasa, sel menjadi terlatih beradaptasi dengan lingkungannya.

Ketika lemak digunakan untuk energi, akan dihasilkan zat yang disebut badan keton, yang mengatur ekspresi dan aktivitas protein dan molekul yang mempengaruhi kesehatan dan penuaan.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved