Ramadan 2021
'Protokol Meja Makan' Puasa Era Pandemi
Sekarang sedang berlangsung bulan Ramadan, dan umat Islam menjalankan kewajiban berpuasa bagi yang mampu.
Di kawasan merah misalnya, tarawih berjamaah di masjid bisa ditiadakan.
Di kawasan kuning atau hijau, tarawih berjamaah dilaksanakan dengan kapasitas hanya 30 persen saja.
Demikian juga ritual mudik yang khas Indonesia, pemerintah terpaksa melarang dengan tujuan untuk mencegah terjadinya ledakan penularan virus Corona.
Karena pelarangan ini, mudik bisa digelar secara virtual saja.
Ingat bahwa setiap liburan panjang sebelum sebelumnya dilaporkan kasus baru Covid 19 umumnya meningkat tajam.
Jika puasa Ramadan dijalankan dengan baik dan benar, dalam arti berpuasa secara fisik, emosional, mental dan spiritual, maka diyakini akan memberikan kemaslahatan pada sanubari kaum beriman.
Bahkan, puasa juga memberikan manfaat kesehatan fisik dan mental secara langsung.
Untuk itu perlu diperhatikan bagaimana 'protokol meja makan' demi mengoptimalkan manfaat puasa.
Sudah banyak penelitian yang menjelaskan manfaat berpuasa bagi kesehatan tubuh.
Pada dasarnya secara fisik, berpuasa sama dengan diet.
Dengan makan sedikit kalori, berpuasa selama 14-16 jam setiap hari dalam waktu satu bulan, akan bagus untuk tubuh, dan bisa menurunkan berat badan.
Jika puasa ini diteruskan hingga satu bulan berikutnya, bisa menurunkan berat badan hingga sekitar 3-5 kg.
Tentu dengan syarat, bahwa saat berbuka tidak lantas 'balas dendam' dengan memenuhi meja makan dengan aneka makanan yang lebih banyak ketimbang tidak saat Ramadan.
Diet Intermiten
Mark P Mattson, profesor ahli saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins, menjelaskan bahwa hati (liver) menyimpan glukosa, yang digunakan oleh tubuh utamanya otak, untuk energi, sebelum berubah menjadi pembakaran lemak tubuh.
Dibutuhkan 10 hingga 12 jam untuk menghabiskan kalori di hati sebelum terjadi pergeseran metabolisme untuk menggunakan lemak yang tersimpan sebagai energi.