Ramadan 2021
'Protokol Meja Makan' Puasa Era Pandemi
Sekarang sedang berlangsung bulan Ramadan, dan umat Islam menjalankan kewajiban berpuasa bagi yang mampu.
Ramadan 2021
Prof dr Djoko Santoso PhD
Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim dan Guru Besar Kedokteran Unair Surabaya
SURYAMALANG.COM - SUNATULLAH atau secara alamiah, tubuh manusia tidak bisa menjalankan fungsinya jika tidak ada asupan makanan.
Tubuh manusia membutuhkan asupan nutrisi berupa makanan dan air yang mengandung mineral secara proporsional, agar tetap hidup dengan baik melalui dukungan penuh dari mesin homeostasis (biologi) tubuhnya.
Istilah yang tepat adalah makan untuk hidup, dan jangan dibalik, agar mesin homeostasis tubuh tidak gampang menuju homeostenosis (menua).
Ada kalanya tubuh sengaja dikosongkan dari asupan nutrisi dalam jangka waktu tertentu, untuk tujuan tertentu.
Salah satu bentuk pengosongan nutrisi itu adalah yang disebut puasa.
Jika sedang tidak puasa, tubuh membutuhkan sumber bahan bakar untuk menjalankan mesin kehidupan, agar dapat bergerak secara fisik, mental dan emosional.
Rasa lapar adalah sinyal bahwa tubuh minta asupan nutrisi, minta makan.
Rasa lapar dalam waktu yang lama, bisa mengganggu kestabilan emosional, misal mudah tersinggung.
Setelah makan, barulah muncul perasaan kenyang, lega, dan emosi bisa stabil.
Dalam konteks sosial, kelaparan massal yang tidak segera tertangani dalam waktu yang lama, akan rawan memicu letupan sosial.
Sekarang sedang berlangsung bulan Ramadan, dan umat Islam menjalankan kewajiban berpuasa bagi yang mampu.
Berpuasa secara fisik, sekaligus juga berpuasa secara mental dan emosional, untuk tujuan spiritual.
Karena itu, ada banyak aktivitas pendukung 'ibadah personal' seperti salat tarawih, mengkaji Alquran, iktikaf; dan 'ibadah berbagi' seperti berinfak, bersedekah, berzakat, mengajarkan ilmu, berdakwah, dan seterusnya.
Tetapi karena sekarang masih dalam suasana pandemi, maka segala aktivitas tadi disesuaikan, mengikuti protokol kesehatan.