Ramadan
Bagaimana Hukum Berbohong di Bulan Ramadan, Apa Bisa Membatalkan Puasa? Begini Penjelasan Ustaz
Simak hukum berbohong selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadanlengkap dengan doa meminta petunjuk dan kebenaran.
Penulis: Frida Anjani | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM - Simak hukum berbohong selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Melakukan kehobongan atau berbohong apa bisa membatalkan puasa?
Simak penjelasan lengkapnya dari ustaz terkait hukum berbohong saat puasa berikut ini lengkap dengan doa meminta petunjuk dan kebenaran.
Berbohong menjadi salah satu sifat tercela manusia yang kerap dilakukan.
Meski terlihat sepele nyatanya berbohong menjadi perbuatan yang dianggap biasa bagi pelakunya, semisal berbohong untuk melucu, atau menghindari perkara sederhana.
Berbohong sendiri diartikan dengan melakukan sesuatu tidak sesuai dengan sebenarnya, atau juga palsu.

Baca juga: 5 Makanan Ini Bisa Membuat Kenyang saat Waktu Sahur Mepet, Ada Kurma, Pisang, hingga Sereal
Baca juga: Daftar 4 Sholat Sunnah yang Bisa Dikerjakan Sebelum Sahur Saat Ramadan, Ada Tahajud hingga Taubat
Baca juga: Bolehkah Makan Sahur Saat Imsak Hingga Menuju Azan Subuh? Begini Penjelasan Ustaz
Sifat tercela ini dilarang Allah SWT seperti yang tertulis pada surat An-Nahl (16:105).
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَأُوْلـئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS. An-Nahl [16]: 105).
Lantas apakan berbohong di bulan Ramadhan 1442 H akan membatalkan puasa?
Menjawab perkara itu, seperti dilansir dari Kompas.com saat menghubungi Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr H Syamsul Hidayat.
Syamsul mengatakan, berbohong atau berdusta di bulan Ramadhan tidak akan membatalkan puasa.
Kendati demikian, berbohong saat bulan Ramadhan seperti saat ini dapat mengurangi pahala puasa.
"Berbohong tidak membatalkan tapi akan mengurangi (pahala), bahkan menggerus nilai puasa hingga nol. Puasanya tetap sah tapi tak bernilai," kata Syamsul.
Lebih lanjut kata Syamsul, perkara yang membatalkan puasa ialah makan, minum dan sejumlah perbuatan lain yang bisa membatalkan ibadah ini.