Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Impian Wali Kota Eri Cahyadi di HUT Surabaya ke-728 (Habis), 'Sampai Kapanpun Bu Risma Guru Saya'

Juga penegasan Cak Eri Cahyadi bahwa sampai kapanpun Tri Rismaharini atau Bu Risma, wali kota Surabaya sebelumnya, akan dianggap sebagai guru.

Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: isy
saiful sholichfudin/suryamalang.com
Wawancara Eksklusif News Director Tribun Network sekaligus Pemred Harian Surya Febby Mahendra Putra (kanan) bersama Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di ruang kerja Balai Kota Surabaya, Jumat (28/5/2021). 

Surya: Menurut hitungan Anda, kapan kira-kira pandemi berakhir?
Eri: Kita tidak pernah ada yang tahu kapan berhentinya. Gusti Allah yang tahu. Kita harus bersahabat. Artinya, ekonomi harus tetap jalan, sosial harus tetap jalan tapi angka penularan harus ditekan. Ekonomi harus bergerak di masa pandemi. Pemasaran UMKM secara online. Sebab, pemasaran tak bisa dengan offline. RHU  (Rumah Hiburan Umum) kita buka, tapi prokes kita kencangi.

Yang bisa menjaga, bukan pemerintah, tapi warga. Sehingga, ketika ada relaksasi ekonomi, jadi dua mata pisau tajam. Kalau kita tak menggerakkan ekonomi, mati kita. Tapi kalau kita hanya mengejar ekonomi, Covid bisa naik. Sehingga, harus berjalan beriringan. Buka namun dengan prokes.

Misalnya, di bioskop. Pengunjung mall langsung naik 30 persen. Namun, kami sampaikan ke pengelola, jangan sampai kepercayaan ini disia-siakan. Jangan sampai angka Covid naik. Ternyata, ini dijaga benar ketika kepercayaan ini diberikan.

Surya: Surabaya dikenal berhasil di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya sebelumnya, Tri Rismaharini. Bagaimana cara Anda melepas bayangan dari Bu Risma? Atau justru Anda tidak berusaha lepas?
Eri: Setiap pemimpin mempunyai karakter yang berbeda. Apa yang terbaik dari pemimpin yang lama, kita teruskan. Sehingga, kami memiliki jargon 'Meneruskan Kebaikan'. Saat mengaji mulai kecil diajarkan untuk berterimakasih kepada pemimpin sebelumnya. Artinya, kalau ada kebaikan maka harus diteruskan. Dalam meneruskan, saya tidak dengan karakter yang sama. Misalnya, pelayanan BPJS kepada seluruh warga. Pelatihan teknologi kepada RT sehingga pelayanan cukup datang ke RT.

Surya: Juga membawa HT seperti Bu Risma?
Eri: Saya tidak dengan HT, sebab lokasi HT bisa dideteksi. Saya memilih menggunakan HP. Sebagai contoh, suatu saat saya datang dari Jakarta, saya lihat jalan Ahmad Yani kotor. Ini bukan daun baru, tapi daun lama, artinya lama nggak disapu. Saya telepon jajaran yang bertanggungjawab. Saya ikut nyapu, sedikit. Saya ajari cara nyapu. Sistem nya seperti ini. Prinsipnya, ketika saya memilih kepala dinas dan jajarannya, maka sistemnya harus jalan.

Surya: Style beda nggak harus seperti Bu Risma?
Eri: Ibu Risma ini sebagai seorang ibu. Misalnya saat mendatangi demo, Ibu bisa saja memarahi pendemo dengan karakter keibuannya. 'Kamu ini anak saya' seperti itu. Ibu nggak dilawan. Tapi, kalau saya menirukan, bisa gegeran dengan pendemo.

Surya: Masih kontak untuk meminta pendapat Bu Risma?
Eri: Saya masih kontak dengan beliau. Sebab, bagi saya, beliau adalah guru dan guru tak ada kalimat bekas. Sampai kapanpun beliau adalah guru saya. Sampai hari ini, saya masih kontak dengan guru SMP, guru ngaji, hingga para kiai untuk minta nasihat. Menurut saya, kesempurnaan memimpin ini ada ketika kesinambungan sesama untuk membangun. Saya masih cium tangan dengan para guru saya. Bu Risma juga merupakan guru dan orang tua seperti guru saya lainnya.

Surya: Kapan pertama Anda bertemu Bu Risma?
Eri: Ketika saya masuk (Dinas) Bina Program. Bertemu dengan Bu Risma. Saya kembali ditempa. Akhirnya, saya menjadi Plt Kepala Bagian Bina Program, kemudian Kepala Dinas Cipta Karya, Kepala Bappeko, baru menjadi wali kota.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved