Berita Bondowoso Hari Ini
7 Pemuda Bondowoso Pilih Serahkan Satwa Dilindungi Burung Elang Ular Bido ke Petugas, Ada Ancaman UU
Semua jenis elang dilindungi oleh Undang-Undang,Sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, tentang Konservasi Alam Hayati dan Ekosistemnya
Penulis: Danendra Kusuma | Editor: Dyan Rekohadi
Penulis : Danendra Kusuma , Editor : Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, BONDOWOSO - Seekor burung Elang Ular Bido yang merupakan hewan dilindungi diserahkan oleh sekelompok pemuda pada Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG).
Ada sebanyak 7 pemuda Bondowoso menyerahkan Burung Elang Ular Bido ke Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG), di Kantor Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora), Jumat (4/6/2021).
Tanpa menunggu waktu lama, Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) langsung menyerahkan satwa dilindungi itu ke BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Wiliayah III Jember.
Pelaksana harian (Plh) Bidang KSDA Wilayah III Jember, Purwantono membenarkan bila ada penyerahan Elang Ular Bido dari warga Bondowoso.
Saat ini burung predator tersebut masih ada di kandang transit Jember.
"Sudah diterima rekan-rekan Bidang KSDA Wilayah III Jember, kemarin," katanya, Sabtu (5/6/2021).
Ia menjelaskan sebelum dilakukan pelepasliaran perlu dilihat kelayakannya.
Sebab, kalau sudah pernah dipelihara, elang tersebut perlu direhabilitasi terlebih dahulu.
Rehabilitasi dilakukan untuk memastikan kesiapan elang hidup di habitat atau alam bebas.
"Kasihan kalau selama ini dipelihara. Karena makanan selalu disediakan oleh yang memelihara. Bisa jadi sudah terbiasa. Dikhawatirkan daya survive di habitatnya rendah," terangnya.
Waktu karantina menyesuaikan dengan adaptasi burung itu. Semakin cepat beradaptasi, maka semakin cepat dilepasliarkan.
"Idealnya juga, elang tersebut dilepas di habibat dimana ia berasal. Karena kemungkinan untuk beradaptasi lebih mudah kalau di asalnya," ucapnya.
Berdasarkan informasi dihimpun, elang yang merupakan anggota suku Accipitridae itu didapat dari warga di sekitar deliniasi Ijen Geopark Bondowoso, tepatnya di Tlogosari.
"Saya belum dapat info ceritanya gimana, apa memang baru didapat (dari hutan), atau pernah dipelihara," urainya.