Breaking News:

Berita Malang Hari Ini

Bea Cukai Malang Kantongi Rp 15,6 Triliun Hingga Oktober 2021

Bea Cukai Malang bersama Pemkot Batu menyelenggarakan Sosialisasi Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Bea Cukai kepada perangkat desa

Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Kepala Bea Cukai Malang, Gunawan Tri Wibowo (kedua dari kiri) bersama Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso lalu Ketua DPRD Batu, Asmadi dan Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya ALam, Emilyati berfoto bersama di sela-sela kegiatan sosialisasi di Hotel Senyum, Selasa (16/11/2021). 

SURYAMALANG.COM - Bea Cukai Malang bersama Pemkot Batu menyelenggarakan Sosialisasi Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Bea Cukai kepada perangkat desa dan organisasi perempuan di Hotel Senyum, Kota Batu.

Sosialisasi itu sebagai upaya untuk mengurangi potensi peredaran cukai ilegal, termasuk memperingatkan akan sanksi yang dapat diterima oleh pelaku pelanggaran.

Kepala Bea Cukai Malang, Gunawan Tri Wibowo meminta para pemangku kebijakan atau stakeholder dapat meneruskan informasi mengenai Perundang-undangan Bea Cukai kepada masyarakat yang lebih luas. Acara tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso, Ketua DPRD Batu, Asmadi dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Ony Ardianto.

"Diharapkan, para stakeholder dapat menyebarluaskan tentang cukai ilegal agar dapat mencegah dan meminimalisir terjadinya peredaran rokok ilegal di Kota Batu,” ujar Gunawan, Selasa (16/11/2021).

Secara umum, Gunawan menjelaskan potensi bea dan cukai nasional mencapai Rp 180 triliun. Selain itu, target ekspor sebanyak Rp 1,8 triliun dan bea masuk Rp 33,2 triliun. Di Malang Raya, perolehan hingga Oktober 2021 ini telah mencapai Rp 15,6 triliun.

Target awal pada 2021 mencapai Rp 20,5 triliun, lalu ada redistribusi akibat pandemi Covid-19 menjadi Rp 18,9 triliun.

“Potensi Malang Raya cukup besar dibanding tempat-tempat lain di Jawa Timur. Sepertinya nomor satu untuk penerimaan cukai. 80 sampai 90 persen itu berasal dari cukai rokok. Lainnya ekspor dan impor,” papar Gunawan.

Di Malang Raya, Kota Batu mendapatkan jatah Rp 18.922.459.000, Kota Malang Rp 30.367.991.000 dan Kabupaten Malang, Rp 80.025.348.000. Penerimaan bea cukai terdiri atas 50 persen untuk kesejahteraan masyarakat, 25 penegakan hukum dan 25 persen untuk kesehatan.

“Beredarnya rokok ilegal sangat merugikan pemasukan negara. Oleh sebab itu, kita harus bersama-sama memberantasnya,” ajak Gunawan.

Rokok ilegal itu seperti rokok polos yang tidak ada pita cukainya, lalu rokok pita cukai bekas, pita cukai palsu dan pita cukai berbeda. Dalam sosialisasi itu, petugas dari Bea Cukai Malang memberikan edukasi untuk mengetahui tanda-tanda cukai ilegal.

“Di Malang Raya, dari hasil penindakan, perkiraan kerugian negara kurang lebih Rp 6.372.431.220,” papar Gunawan.

Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso menjelaskan bahwa di Kota Batu tidak memiliki banyak perusahaan rokok seperti Kota Malang dan Kabupaten Malang. Oleh sebab itu, penerimaan untuk Kota Batu jauh lebih kecil dibanding dua daerah lainnya.

“Kami telah menerima DBHCHT ini sejak 2009. Di Kota Batu memang tidak banyak perusahaan rokok,” ungkapnya.

Sosialisasi ini rencananya akan dilakukan sebanyak 30 kali. Sejauh ini, Pemkot Batu dan Bea Cukai Malang telah menyelenggarakan 24 kali pertemuan. Ditargetkan ada 2012 peserta dari 30 kali pertemuan tersebut.

“Sudah 24 kali pertemuan atau 80 persen dari target pertemuan. Kelompok sasaran peserta dari seluruh desa dan kelurahan di Kota Batu. Sejauh ini sudah 1350 peserta, atau 64 persen dari target 2012 orang,” tutup Punjul. 

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved