Selasa, 14 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Monumen-monumen Bersejarah di Balik Terbangunnya Bendungan di Jawa Timur

Terdapat sejumlah monumen bersejarah yang masih menyimpan sejumlah kisah tragis di balik megahnya bangunan bendungan maupun infrastruktur lain.

Penulis: Benni Indo | Editor: Zainuddin
PJT I
Direktur Utama PJT I, Raymond Valiant Ruritan saat menabur bunga di tugu monumen sebagai bentuk penghormatan dan peneladanan di balik peristiwa bersejarah terbangunnya sejumlah bendungan. 

SURYAMALANG.COM, BATU – Terdapat sejumlah monumen bersejarah yang masih menyimpan sejumlah kisah tragis di balik megahnya bangunan bendungan maupun infrastruktur lain yang dikelola Perusahaan Umum Jasa Tirta I.

Monumen pertama adalah Monumen Metro atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tugu Metro. Tugu ini terletak di tepi Jembatan Metro yang berada di wilayah Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan Departemen Humas dan Informasi Publik, PJT I, tugu ini dibangun untuk menandai kecelakaan tragis yang terjadi pada 21 November 1985 di lokasi setempat.

Sore itu kendaraan truk proyek yang mengantar pulang 80 orang pekerja Proyek Bendungan Sengguruh terjatuh dan meluncur masuk ke jurang Sungai Metro.

Sebanyak 49 orang dinyatakan meninggal dunia dan sisanya luka-luka. Monumen ini berbentuk empat buah bangunan serupa sayap yang mengapit papan trapesium bertuliskan nama para korban.

Peristiwa ini menjadi bagian kisah pilu semasa pembangunan Bendungan Sengguruh yang saat ini berfungsi sebagai salah satu pengendali banjir dan menyuplai kebutuhan PLTA di sistem Sungai Brantas.

Berikutnya adalah monumen yang berada di area genangan waduk dari Bendungan Wlingi, Kabupaten Blitar. Monumen ini dikenal dengan sebutan Pathok Loding karena bentuknya yang menyerupai pasak dengan tumpukan batu di bagian atasnya.

Monumen ini dibangun untuk mengenang pengorbanan dari para pekerja dan tenaga ahli yang gugur pada masa pembangunan Bendungan Wlingi pada tahun 1974 - 1977.

Salah satu peristiwa tragis yang terjadi adalah tergulingnya perahu yang mengangkut para insinyur Jepang pada saat hendak melakukan survey perencanaan bendungan.

Terdapat 5 nama orang insinyur Jepang dan 11 nama pekerja proyek yang terpahat pada tumpukan batu di bagian atas monumen.

Dengan pengorbanan tersebut, terbangunlah Bendungan Wlingi yang saat ini bermanfaat untuk menyuplai kebutuhan irigasi seluas 12 ribu hektar sawah melalui saluran Lodagung serta membangkitkan PLTA dengan kapasitas 2 x 27 MW.

Monumen lainnya yang juga menyimpan kisah tragis terdapat di wilayah Tulungagung Selatan. Pada masa penjajahan (1942 - 1945), Jepang melaksanakan sistem kerja paksa atau romusha untuk membangun saluran sudetan banjir dengan mengalirkan air melalui terowongan yang menembus bukit Neyama (Gunung Selatan), untuk dibuang langsung ke Samudera Hindia.

Ribuan warga Kabupaten Tulungagung, Blitar dan Kediri dipaksa untuk bekerja membangun Parit Raya dan menggali terowongan. Mereka dipekerjakan tanpa upah dengan penuh penderitaan dan kelaparan.

Ditambah dengan adanya wabah malaria pada saat itu, mengakibatkan banyak pekerja meninggal dunia karena penyakit dan kelelahan.

Jasad mereka dikuburkan di bukit Neyama tidak jauh dari lokasi terowongan yang digali. Pembuatan terowongan ini gagal dan terhenti. Pada 1986, proyek kembali diteruskan oleh Pemerintah Indonesia.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved