Berita Batu Hari Ini
KPAI: Sekolah Harus Menjadi Tempat Aman dan Nyaman bagi Anak
Rentetan kasus kekerasan fisik maupun seksual di lembaga pendidikan di Kota Batu harus ditangani dengan tepat agar masa depan anak terjamin
Penulis: Benni Indo | Editor: isy
Berita Batu Hari Ini
Reporter: Benni Indo
Editor: Irwan Sy (ISY)
SURYAMALANG.COM | BATU - Rentetan kasus kekerasan fisik maupun seksual di lembaga pendidikan yang berada di Kota Batu harus ditangani dengan tepat agar masa depan anak terjamin.
Sejumlah pihak menyerukan agar sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak, baik untuk belajar maupun tumbuh kembangnya.
Komisioner KPAI, Putu Elvina berpendapat, SDM dan infrastruktur penunjang sekolah harus siap sebelum menerima siswa.
Sekolah sudah harus memiliki perspektif mengenai perlindungan anak.
Hal ini sangat penting untuk mendukung terciptanya sekolah yang aman dan nyaman untuk anak-anak.
"Untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, maka harus siap semuanya. Mulai kebijakan, SDM, dan infrastrukturnya. Mulai dari tukang sapu sampai kepala sekolahnya. Itu sudah harus siap sebelum menerima siswa. Sehingga dari awal mereka tahu memberikan perlindungan kepada anak didiknya," katanya, Rabu (22/12/2021).
Bercermin pada kasus di sebuah asrama ternama di Kota Batu baru-baru ini, Elvina menilai ada pengawasan yang longgar sehingga tidak mengetahui yang terjadi antar siswa.
Ia menyarankan agar monitoring dan evaluasi ditingkatkan oleh pihak asrama atau yayasan.
"Pengawasannya masih sangat longgar sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi sesama siswa. Kalau sudah tahap ini, maka monitoring harus ditingkatkan. Asrama menjadi tempat pembinaan. Isinya pencegahan dan agar kejadian tidak terulang. Mitigasinya juga harus ditata ulang, baik monitoring dan evaluasi agar kasus tidak terjadi. Harus diketahui waktunya kapan dan tempat mana yang rentan terjadi kasus, lalu dicarikan jalan keluar," ungkapnya.
Dalam upaya kembali pada keadilan yang memulihkan masa depan anak, ia berpendapat pendidikan menjadi bagian terpenting agar mereka keluar dari trauma dan mengubah perilaku.
KPAI juga mengatakan agar lembaga pendidikan terbuka sehingga pihak-pihak terkait dapat memantau tumbuh kembang anak di sekolah yang berasrama.
Keterbukaan sekolah juga sangat penting sehingga masukan dari pihak luar bisa ditampung.
"Manajemennya yang terbuka sehingga eksklusifitas itu tidak meniscayakan pihak-pihak lain yang kemudian bisa memberikan masukan. Jangan sampai kalau sudah terjadi kasus baru repot. Kadang kasusnya setahun dua tahun baru terbongkar. Sekolah cenderung tidak merespon dengan cepat karena dianggap aib," paparnya.
KPAI memantau secara intensif kasus kekerasan yang menimpa anak di Jawa Timur.
"Terdapat sejumlah catatan kasus pada anak di Jawa Timur, termasuk di Kota Batu," ujarnya.
Kepala Seksi PPPA, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Kota Batu, Emy Yulianungrum, juga mengatakan hal serupa, bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman untuk anak-anak.
Gerakan ini harus benar-benar diimplementasikan dengan maksimal.
Pemkot Batu telah berupaya memberikan edukasi kepada pengelola sekolah agar lembaga pendidikan yang mereka kelola ramah terhadap anak.
Ada beberapa poin penting untuk mewujudkan sekolah ramah anak, salah satu di antara sekolah dapat memenuhi hak-hak anak yakni tumbuh kembang, keberlangsungan hidup, perlindungan dan partisipasi.
"Kami mencanangkan untuk menjadi sekolah ramah anak sejak 2015. Dalam prosesnya sudah ada beberapa sekolah seperti, SD Ngaglik 1, SD Punten 1, SMP N 2, sekolah Muhammadiyah, SMA 1 dan MAN 1," kata Emy mencontohkan beberapa sekolah.
Pihaknya mencatat, per September 2021 ini, ada 13 kasus terkait anak, di mana 23 anak menjadi korban.
Gambaran data tersebut dapat menjadi cerminan bahwa pencegahan kekerasan terhadap harus benar-benar dilakukan.
Emy menjelaskan ada beberapa organisasi di Kota Batu yang konsen mendampingi kasus anak.
Organisasi-organisasi itu cukup membantu dalam upaya menekan dan mengedukasi agar kekerasan anak tidak terjadi.
“Kejahatan juga tidak bisa dihapus 100 persen, tapi setidaknya mengurangi. Jika ada kekerasan seksual, kami langsung terjun ke lapangan,” paparnya.
Ketua Umum Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia, Fuad Dwiyono juga bersuara terkait perlunya sekolah yang ramah terhadap anak.
Ia mengatakan, sekolah seharusnya menjadi rumah terbaik bagi anak.
Di sana ada peran sosial anak, juga termasuk ikatan kekeluargaan.
“Jadi kalau seperti keluarga, ya penuh kasih sayang,” ungkapnya.
Sekolah harus memiliki pengawasan dan kontrol yang baik terhadap anak.
Fuad juga meminta agar orangtua wali yang akan mendaftarkan anaknya ke sekolah bisa terbuka terhadap kondisi anak.
Jangan sampai sekolah ataupun pondok hanya menjadi tempat ‘pembuangan’ terhadap permasalahan anak.
“Ketika anak-anak ini dibawa ke sekolah, mereka memperoleh pendidikan yang layak sesuai tumbuh kembang yang baik. Kalau terjadi penyimpangan, kami melihat memang sebenarnya keluarga juga menjadi andalan utama. Ketika anak dimasukan ke pondok atau sekolah, memang dibutuhkan semacam seleksi preventif, secara psikologis bisa dijelaskan kondisi anak,” ungkapnya.
Fuad menegaskan, persoalan anak yang terjadi di Kota Batu bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemkot Batu semata.
Masyarakat juga memiliki peran serta untuk melindungi anak-anak.
Oleh sebab itu, ia berharap pihak sekolah tidak menutup diri terhadap publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/kekerasan-anak_20150426_223235.jpg)