Hikmah Ramadhan

Instrospeksi Kualitas Puasa

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Zainuddin
Dr KH Reza Ahmad Zahid Lc MA Ketua Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jawa Timur 

Dr KH Reza Ahmad Zahid Lc MA
Ketua Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jatim

SERINGKALI kita mendengar satu ayat yang menjadi dasar utama dalam menjalankan puasa di bulan suci Ramadan; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al Baqarah 183).

Dari ayat tersebut, Allah SWT mewajibkan umat Nabi Muhammad SAW untuk berpuasa, sama dengan orang-orang sebelum umat Nabi Muhammad SAW.

Contohnya kita melihat ritual yang dilakukan oleh Nabi Adam alaihis salam yang berpuasa dengan istikamah. Dikatakan, sebelum Nabi Adam bertemu dengan Siti Hawa ia melakukan puasa dan setelah bertemu dengan Siti Hawa juga berpuasa.

Sehingga Nabi Adam memiliki satu rutinitas puasa setiap pertengahan bulan, yakni tanggal 13, 14, 15. Dalam agama Islam puasa di pertengahan bulan ini kemudian disyariatkan dan dinamakan dengan puasa ayyamul bidl.

Nabi Nuh alaihis salam juga melakukan puasa dan memerintahkan kepada kaumnya untuk berpuasa ketika berada di perahu dan mengarungi bahtera banjir dahsyat, sehingga Allah SWT memberikan keselamatan kepada Nabi Nuh beserta kaumnya.

Nabi Daud alaihis salam juga melakukan puasa secara bergantian; satu hari puasa satu hari tidak. Nabi Musa alaihis salam pun melakukan puasa selama 40 hari di Gunung Turisina sebelum akhirnya mendapatkan wahyu Kitab Taurat.

Puasa dengan berbagai macam polanya yang dilakukan oleh para nabi dapat dikatakan sebagai bentuk tirakat untuk mendapatkan ridha ilahi dan mencapai tujuan dan derajat yang diharapkan. Ketika berpuasa, dalam keadaan lapar dan dahaga, maka akan tersirat makna keagungan nikmat dari Allah SWT.

Dengan demikian orang yang berpuasa akan berinterospeksi diri dan menemukan jati dirinya, sebagai hamba yang lemah dan selalu membutuhkan kenikmatan dari Allah SWT.

Selanjutnya dia akan memiliki sikap kerendahan hati, ketawadlu’an dan kemantapan serta kekusyukan dalam berdoa. Maka doa yang mereka panjatkan mudah dikabulkan dan hajat yang mereka harapkan akan semakin mudah terijabahi.

Halaman
123
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved