Berita Lumajang Hari Ini

Dana Rp 10 Miliar Digerojok ke Desa Ranupani tapi Dampaknya Nihil

Perlakuan pemerintah ke Desa Ranupani sangat istimewa, tetapi dampaknya belum signifikan. Desa Ranupani masih berada dalam status desa berkembang.

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Yuli A
tony hermawan
Panorama Desa Ranupani Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang merupakan desa yang populer bagi kalangan pendaki 

Perlakuan pemerintah ke Desa Ranupani sangat istimewa, tetapi dampaknya belum signifikan. Desa Ranupani masih berada dalam status desa berkembang di tahun 2022. 

SURYAMALANG.COM, LUMAJANG - Desa Ranupani Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang merupakan desa yang populer bagi kalangan pendaki

Desa yang menjadi pintu masuk ke Gunung Semeru ini memiliki danau, dan masyarakatnya yang terus merawat kearifan lokal. Beberapa tahun terakhir Pemkab Lumajang memberikan perhatian maksimal Desa Ranupani untuk dijadikan desa wisata.

Akan tetapi, hal tersebut rupanya tidak terlalu mendongkrak kunjungan wisatawan. Terlebih sejak pendakian Gunung Semeru ditutup, penginapan atau homestay di sana hampir tidak menerima tamu.

Anggota DPRD Lumajang fraksi PPP Lumajang Trisno menyoroti hal tersebut. Oleh karena itu, menurutnya, pengelolaan dan pengembangan data pariwisata harus benar-benar dioptimalkan agar tepat sasaran. Supaya anggaran yang dikeluarkan tidak terbuang sia-sia. Sebab, pengoptimalan tersebut sangat penting terhadap jumlah kunjungan wisatawan.

"Desa wisata andalan Lumajang yang masuk 50 anugrah desa wisata indonesia 2021 sudah banyak dibangun untuk kenyamanan wisatawan. Seperti amphiteater yang telah diresmikan oleh Menteri Pariwisata. Namun, paska diresmikan amphiteater tidak pernah digunakan lagi untuk kegiatan dan seperti tidak terawat lagi,” katanya.

Anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan atau peningkatan potensi wisata tidak sedikit. Sekitar Rp10 miliar lebih. Akan tetapi, hasilnya tidak sebanding. Jangankan berdampak pada perekonomian masyarakat, ke kas daerah pun nihil.

Padahal, pemkab tidak hanya melakukan pembangunan, tetapi juga menempatkan sejumlah pendamping.
 
“Perlakuan pemerintah ke Desa Ranupani sangat istimewa, tetapi dampaknya belum ada progress yang signifikan. Sampai sekarang desa itu belum menjadi desa dengan status maju. Desa Ranupani masih berada dalam status desa berkembang di tahun 2022. Masih berada di kasta level 3,” tambahnya.

Trisno melanjutkan, belum lagi soal wahana wisata Siti Sundari yang terletak di Desa Burno Kecamatan Senduro. Lokasi wisata ini tidak jauh dari Desa Ranupani. Eksistensi wahana wisata tersebut perlahan tenggelam. “Paska pandemi bukannya semakin ramai malah sepi,” pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved