Selasa, 7 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Anak Tak Lolos, Ortu Nangis di Posko PPDB Kota Malang

Wanita yang tidak mau menyebutkan namanya menangis di Posko Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Kota Malang.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
suryamalang.com/sylvi
Suasana di Posko PPDB di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Selasa (13/6/2023). 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Wanita yang tidak mau menyebutkan namanya menangis di Posko Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang berada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Selasa (13/6).

Wanita itu menangis karena anaknya tidak lolos masuk SMPN 11 Kota Malang.

Sesuai aturan, calon peserta didik baru (CPDB) jalur zonasi bisa memilih maksimnal tiga sekolah.

Tapi, suami dari wanita itu hanya memilih satu sekolah untuk anaknya, yaitu SMPN 11.

Sang ayah sengaja memilih sekolah yang berlokasi di Jalan Ikan Piranha Atas tersebut karena dekat dengan rumahnya di Kemirahan.

"SMPN lain jauh dari rumah, nanti tidak ada yang mengantarkan karena semuanya bekerja," kata wanita itu kepada SURYAMALANG.COM.

Wanita itu sengaja datang ke Posko PPDB dengan harapan bisa menambah dua pilihan SMPN lain. Tapi, pilihan itu sudah final dan tidak bisa ditambahkan lagi.

Memang ada pendaftar yang hanya memilih satu sekolah. Diperkirakan pendaftar itu percaya diri bakal diterima di sekolah karena jarak rumah ke sekolah relatif dekat.

Tapi, pendaftar tidak memperkirakan banyak calon siswa yang rumahnya lebih dekat dengan sekolah.

Yudi berharap anaknya bisa skeolah di SMP negeri. Pria asal Tanjungrejo ini sempat mendaftarkan anaknya melalui PPDB jalur prestasi nilai rapor dengan pilihan SMPN 6, SMPN 2, dan SMPN 9. Tapi, sang anak tidak lolos.

Kini Yudi berharap sang anak bisa masuk SMP negeri melalui PPDB jalur zonasi.

Saat pendaftaran, sekolah memilihkan SMPN 30, SMPN 15, dan SMPN 17 untuk anak tersebut.

"Saya khawatir anak saya diterima di SMPN yang jauh dari rumah. Nanti tidak ada yang mengantarkan. Kalau naik, harus dua kali angkot, dan biayanya besar. Naik ojek online (ojol) juga berat," kata Yudi.

Yudi tidak ingin anaknya mengalami nasib serupa dengan sang kakak. Sang kakak sempat sekolah di SMKN yang berada di Kota Malang sisi timur.

Yudi mengungkapkan angko paling pagi tiba sekitar pukul 06.00 WIB. Karena rumahnya jauh, sang kakak baru tiba di sekolah sekitar pukul 07.15 WIB.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved