Gaya Hidup Pria Obesitas Berbobot 165 Kg, Makan Sehari 8 Porsi Kini Mulai Diet, Terungkap Kondisinya

Gaya hidup pria obesitas berbobot 165 kg, makan sehari 8 porsi kini mulai diet, terungkap kondisinya.

Penulis: Sarah Elnyora | Editor: Dyan Rekohadi
TribunSolo.com
Sungadi di Sragen Jawa Tengah. Gaya hidup pria obesitas berbobot 165 kg, makan sehari 8 porsi kini mulai diet, terungkap kondisinya 

Sungadi juga mempunyai keterbatasan dalam berbicara, serta tidak pernah mencicipi bangku sekolah, baik SD hingga SMA, karena kondisinya yang susah melakukan mobilitas.

Kini, Sungadi hanya makan dua kali sehari ketika di rumah.

Sungadi sering bermain keluar rumah, dan lebih banyak membeli makanan dari luar rumah.

Sementara itu, Kepala Desa Sono, Parjiyo mengatakan hanya bisa memantau kondisi kesehatan Sungadi dari jauh.

Pasalnya setiap petugas datang dengan membawa ambulans, Sungadi selalu kabur tidak mau diperiksa.

"Kalau dari desa, ketika mau dicek kesehatannya, dia susah, lari, tahu ada mobil ambulans datang, dia lari, jadi hanya pantauan saja," kata Parjiyo.

"Tapi, dia jarang sakit, suka beraktivitas, hubungan sosialnya bagus, setiap ada keramaian dia selalu datang," pungkasnya.

Kasus obesitas di Indonesia sendiri meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir. Dari 10,5 persen pada 2007 menjadi 21,8 persen pada 2018.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Eva Susanti mengatakan kasus obesitas di Indonesia saat ini perlu perhatian khusus. 

Bahkan kasus obesitas di Indonesia saat ini telah digolongkan sebagai penyakit yang perlu diintervensi secara komprehensif.

Eva Susanti mengatakan, obesitas merupakan masalah multifaktor yang dipengaruhi peningkatan asupan energi, perubahan pola makan dari tradisional ke modern, urbanisasi, dan penurunan aktivitas fisik.

Faktor tersebut didukung oleh kontribusi faktor lain seperti aspek sosial ekonomi, budaya, perilaku, dan lingkungan, sebagaimana dilansir Antara, Senin (10/6/2023).

Selain itu, obesitas juga dipicu oleh kurangnya aktivitas fisik.

Hal ini berkaitan dengan fenomena khas daerah urban yaitu berkurangnya ruang publik sebagai arena bermain dan berolahraga.

Kemudahan mengakses sarana modern berteknologi tinggi, menurut Eva juga menjadi faktor penyebab kurangnya aktivitas fisik remaja, terutama di perkotaan.

Halaman
123
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved