Berita Tulungagung Hari Ini
2 Manuskrip dari Kayu di Tulungagung Diduga Beraksara Bali Kuno tapi Berbahasa Jawa
Salah satu koleksi naskah lama Pemkab Tulungagung adalah Pitutur Luhur Kitab Ma’rifatul Bathin yang sudah terjemahkan di Perpustakaan Pusponegoro.
Penulis: David Yohanes | Editor: Yuli A
Salah satu koleksi naskah lama Pemkab Tulungagung adalah Pitutur Luhur Kitab Ma’rifatul Bathin yang sudah terjemahkan di Perpustakaan Pusponegoro Mangkunegaran tahun 2010. Ada dua naskah lain yang belum diterjemahkan.
SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung mengoleksi dua manuskrip berbahan kayu yang belum diketahui isinya.
Ada dugaan, kedua manuskrip itu menggunakan aksara Bali kuno tetapi berbahasa Jawa.
Manuskrip ini ditulis di atas lembaran-lembaran tipis yang diduga berbahan bayu.
Manuskrip juga belum diketahui dari tahun berapa dan berisi tentang apa.
Menurut Arsiparis Muda di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Silan, dua manuskrip kuno itu ditemukan di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Tulungagung tahun 2019.
Saat itu Bupati meminta Kepala Badan Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi, Marjadji, untuk membersihkan salah satu ruang di pendopo.
“Ada satu ruang di dekat ruang Sekpri. Waktu itu kami antisipasi karena pasti ada dokumen penting,” ujar Silan.
Silan yang juga dilibatkan dalam proses pembersihan ruang itu melihat ada tumpukan dokumen di pojokan ruang.
Dari tumpukan dokumen itu ditemukan dua manuskrip kuno di atas lembaran kayu yang dibundel dengan tali.
Ketiga manuskrip ini kemudian dibawa ke Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk disimpan.
“Informasi sementara dari pendopo, dulu souvenir itu dari luar Jawa. Tapi isinya tentang apa, kami tidak tahu,” sambung Silan.

Selain dua manuskrip kuno itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan juga menyimpan manuskrip dari keluarga Pringgokusuman.
Keluarga ini dulunya adalah pemilik dan pemelihara tombak pusaka Kyai Upas yang kini menjadi pusaka Kabupaten Tulungagung.
Manuskrip dari kertas bertuliskan huruf Jawa ini diserahkan pada tahun 2007.
Dari proses penerjemahan, manuskrip ini diketahui bernama Pitutur Luhur Kitab Ma’rifatul Bathin.
“Manuskrip ini sudah kami terjemahkan di Perpustakaan Pusponegoro Mangkunegaran tahun 2010,” ungkap Silan.
Menurut pegiat budaya Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Monis Pandu Hapsari, sampai saat ini belum ada upaya penerjemahan dua manuskrip kuno ini.
Monis mengaku baru tahu keberadaan manuskrip ini setelah menghubungi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.
Dia juga sudah menghubungi pegiat sejarah untuk mengidentifikasi manuskrip ini.
“Awalnya saya kira terbuat dari daun lontar. Tapi informasi dari pegiat budaya, bahannya dari kayu,” papar Monis.
Manuskrip ini diperkirakan ditulis dengan huruf Bali kuno, tetapi menggunakan bahasa Jawa.
Sedangkan tema tulisannya berupa kidung-kidung.
Karena belum ada upaya identifikasi menyeluruh, belum diketahui pasti ininya.
Sedangkan manuskrip kertas dipastikan ditulis di atas tahun 1711.
Hal ini berdasar identifikasi kertas yang dipakai media menulis manuskrip itu.
Kertas berwarna coklat muda ini terlihat tanda air (watermark) yang bisa dijadikan petunjuk awal.
“Dari pelacakan, kertas dengan watermark itu dibuat pabrikan Belanda. Dari pelacakan diketahui pabrik ini baru dibuat tahun 1711,” ungkap Monish.
Pemkab Tulungagung Butuh Rp 16 Miliar dari BTT Pemprov Jatim Untuk Pemulihan Jalan dan Jembatan |
![]() |
---|
FAKTA Hutan Berubah Jadi Ladang Jagung, jadi Sumber Ancaman Bencana Alam di Tulungagung Selatan |
![]() |
---|
Pesepeda Tampil di Hell2Man, Taklukan Rute Pegunungan Waduk Wonorejo Tulungagung - Kecamatan Sendang |
![]() |
---|
Memperbaiki Data Dari Desa, BPS dan Pemkab Tulungagung Mencanangkan Desa Cinta Statistik |
![]() |
---|
Banjir di Tulungagung, Banyak Sepeda Motor Mogok Terjebak di Simpang Orari |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.