Peran Sarekat Islam dan Akulturasi Budaya di Balik Motif Batik Pesisiran
ALIT Indonesia bekerjasama dengan Wisma Jerman menggelar pameran Mixture Coastal Batik Festive, mengajak masyarakat memahami keindahan warisan budaya
Sarekat Dagang Sslam, Sarekat Islam lahir di Surabaya dan kemudian batik dari berbagai tempat terutama pesisiran terutama dari Pekalongan masuk ke Surabaya menjadi transaksi dan mempengaruhi Madura, Sidoarjo, kawasan Tapal Kuda karena punya nilai ekonomi.
Reporter: Nurika Anisa
SURYAMALANG.COM, SURABAYA - ALIT Indonesia bekerjasama dengan Wisma Jerman menggelar pameran Mixture Coastal Batik Festive, mengajak masyarakat memahami keindahan warisan budaya lokal.
Terdiri dari serangkaian acara, pameran batik ini menampilkan lebih dari 150 lembar kain batik tulis koleksi dari Galeri Dewa Dewi Ramadaya dan Yuliati Umrah.
“Kita bicara soal pembauran, karena bangsa Indonesia ini tidak murni dari suku apa tapi berbaur menjadi bangsa Indonesia. Selain itu, saya mengangkat batik pesisiran karena batik pesisiaran potret, artefak tentang pembauran itu,” ungkap Yuliati Umrah ditemui Tribun Jatim, belum lama.
Yuliati menjelaskan, batik pesisiran atau yang disebut batik saudagaran sebagai menjadi alat ekonomi kaum revolusioner untuk mengumpulkan modal untuk kemerdekaan.
“Sarekat Dagang Sslam, Sarekat Islam lahir di Surabaya dan kemudian batik dari berbagai tempat terutama pesisiran terutama dari Pekalongan masuk ke Surabaya menjadi transaksi dan mempengaruhi Madura, Sidoarjo, kawasan Tapal Kuda karena punya nilai ekonomi,” ungkapnya.
Pameran Mixture Coastal Batik Festive juga mengajak pengunjung mengenal tahapan pembuatan batik, praktik membuat pola, mencanting dan mengikuti talkshow tentang batik dan budaya Indonesia.
Salah satu workshop yang dilakukan adalah drapery, yaitu cara memakai kain batik tanpa harus menjahit atau mengguntingnya. Dalam wokrshop ini peserta diajak untuk berkreasi dan tampil fashionable dengan menggunakan batik.
Acara ini juga membahas tentang pengaruh batik yang merupakan kain tradisional nusantara, menjadi sebuah warisan budaya berharga yang melintasi generasi dan benua.
Dengan berbagai motif dan teknik pewarnaan yang unik, batik mencerminkan sejarah, tradisi, dan keindahan alam.
“Sebenarnya tidak berniat membuat pameran, karena punya warisan batik yang segitu banyak dan umurnya hampir 100 tahun yang tersimpan lama di lemari tua orang tua dan orang tua saya dapat dari kakeknya. Ini yang perlu diceritakan kepada anak muda bagaimana nenek moyang kita berjuang dari batik dan yang buat perempuan juga,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/ALIT-menggelar-pameran-Mixture-Coastal-Batik-Festive-warisan-budaya-lokal.jpg)