Peran Sarekat Islam dan Akulturasi Budaya di Balik Motif Batik Pesisiran
ALIT Indonesia bekerjasama dengan Wisma Jerman menggelar pameran Mixture Coastal Batik Festive, mengajak masyarakat memahami keindahan warisan budaya
Sementara itu, Germany Museum Curator Hary Soerijanto Rosali mencontohkan keberagaman batik di kawasan Tapal Kuda. Batik Tapal Kuda menurutnya memiliki warna yang cenderung warna-warni kecuali Batik Banyuwangi.
Salah satunya Motif batik Banyuwangi Sembruk Cacing yang tergolong kuno ini memiliki filosofi kesuburan. Sembruk memiliki arti rumah, dan cacing sendiri merupakan hewan melata yang mempunyai peran penting dalam membantu menguraikan bahan organik menjadi zat hara didalam tanah.
“Banyuwangi itu beda karena dia kan dipengaruhi suku Osing. Contohnya Sembruk Cacing kalau di Jogja disebut Lereng Lengko. Satu motif bisa macam-macam, akulturasi termasuk di nama batik yang ada di masing-masing daerah” Ungkapnya.
Hary juga menjelaskan batik dan akulturasi budaya di suatu daerah melalui motif dan teknik pembuatan maupun pewarnaannya. Misalnya batik gentongan dengan pembuatan dikerek, dicelupkan pada pewarnaan, kemudian dikerek hingga kering dan dilakukan hingga berulang kali.
Batik gentongan dengan pewarnaan alami yang dahulunya menggunakan daun yang sudah difermentasi dan teroksidasi hingga keluar warna biru.
“Menarik sekali perkembangan batik, misal di fesyen bisa dipikirkan teknik pewarnaan yang baru,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/ALIT-menggelar-pameran-Mixture-Coastal-Batik-Festive-warisan-budaya-lokal.jpg)