Minggu, 3 Mei 2026

Peran Sarekat Islam dan Akulturasi Budaya di Balik Motif Batik Pesisiran

ALIT Indonesia bekerjasama dengan Wisma Jerman menggelar pameran Mixture Coastal Batik Festive, mengajak masyarakat memahami keindahan warisan budaya

Tayang:
Editor: Yuli A
nurika anisa
ALIT Indonesia bekerjasama dengan Wisma Jerman menggelar pameran Mixture Coastal Batik Festive, mengajak masyarakat memahami keindahan warisan budaya lokal. 

 


Batik memiliki makna bagi Yuliati. Sesekali koleksi batik yang berusia 100 tahunan itu dikeluarkan dari lemari. Diangin-angin, disimpan rapi kembali.

 


“Batik itu buat saya masih ketemu ibu. Saya bawa kemana-mana karena saya rasa dekat dengan ibu,” ungkap Yuliati.

 


Dia mengajak masyarakat untuk tidak hanya sekadar memakai, sangat penting pula dalam memahami teknik pembuatan batik tulis dan memahami nilai dari setiap motifnya.

 


Mempopulerkan batik pesisiran tidak hanya menjaga tradisi mencanting tetap berjalan, namun juga menjaga budaya masyarakat pesisir yang mengangkat tinggi nilai toleransi dan pluralisme, menjadikan masyarakat pesisir desa lebih moderat san berpikiran terbuka.

 


“Dunia mengakui batik itu milik Indonesia tapi ragam motifnya tidak hanya dari Indonesia, ada pengaruh lain seperti India, Tionghoa, Jepang, Eropa tapi sudah ditetapkan Indonesia. Negara lain tidak boleh klaim ini bentuk kemerdekaan,” ungkapnya.

 


“Batik pesisiran disebut sudah mulai ada sejak tahun 1.800 silam,” tambahnya.

 


Melalui acara ini, dia berharap masyarakat terutama anak muda mengenal dan memahami batik sebagai warisan budaya. Namun budaya bukan hanya tontonan. Yuliati menyebut, lewat batik pesisiran masyarakat dituntun berbaur, membangun bersama, menerima perbedaan dan tidak kaku.

 

Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved